
Timnas Prancis U-17 saat menghadapi Senegal U-17. Pelatih Prancis U-17, Jean-Luc Vannuchi, masih buta akan kekuatan Uzbekistan U-17 di perempat final Piala Dunia U-17 2023. (LOC WCU17/BRY)
JawaPos.com - Piala Dunia U-17 adalah kesaksian tentang Jerman yang kian terbuka. Jerman yang semakin multiras.
Dari Nigeria sampai Iraq, mulai Portugal sampai Turki, semua terwakili di skuad yang akan berduel dengan Prancis dalam final di Stadion Manahan, Solo, malam ini.
Gerald Asamoah, pemain keturunan Ghana, yang membela Jerman di Piala Dunia 2002 bisa disebut sebagai salah satu pembuka pintu. Sebelumnya, rata-rata hanya penggawa keturunan Turki atau sesama negara Eropa lain ”half-blood” di Nationalmannschaft.
David Odonkor menyusul di Piala Dunia empat tahun kemudian. Dan, ada Jerome Boateng serta Sami Khedira saat Jerman menjuarai Piala Dunia 2014.
Kini, di skuad yang dihuni para calon bintang masa depan mereka, setidaknya 12 personel skuad muda Nationalmannschaft punya garis keturunan dari banyak negara.
Kapten mereka, Noah Darvich, pun berdarah Iraq. Ada juga Paris Brunner, pencetak dua gol ke gawang Argentina di semifinal, yang punya garis keturunan Kongo. Turki, imigran mayoritas di Jerman, juga menyumbangkan Bilal Yalcinkaya.
Sejumlah pemain sepak bola Timnas Jerman meluapkan kegembiraan usai mengalahkan Timnas Argentina pada pertandingan semifinal Piala Dunia U-17 2023 di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Selasa (28/11/2023).
Bagi pelatih Jerman U-17 Christian Wueck, keberagaman itu adalah sebuah keuntungan. ”Kami punya banyak karakteristik. Itu jadi nilai tambah,” terangnya.
Menurut Wueck, keberagaman seperti itu sangat wajar, sesuai dengan perkembangan zaman. ”Banyak orang dari negara satu bertemu orang di negara berbeda, lalu menetap di sebuah negara baru. Sebagai manusia, seharusnya mengambil hal positif dari itu,” ungkapnya.
Prancis bahkan punya tradisi multiras yang lebih panjang di tim nasionalnya. Dari Jean Tigana sampai Kylian Mbappe, skuad hebat Les Blues dari era ke era selalu memiliki bintang dengan garis keturunan dari seberang lautan. Itu tak lepas dari luasnya wilayah bekas jajahan mereka.
Dan, tradisi itu terjaga di Piala Dunia U-17 sekarang ini. ”Bagi kami, keberagaman ini adalah sisi positif,” tutur Jean-Luc Vannuchi, pelatih Prancis U-17.
Menurut Vannuchi, keberagaman itulah yang membuat Prancis U-17 jadi tim yang kuat seperti sekarang. ”Kami sangat bangga punya pemain dengan latar belakang, agama, ataupun ras yang berbeda,” jelasnya.
Yang terpenting bagi Vannuchi adalah bagaimana keberagaman ini membantu untuk mencapai prestasi. Yang dibutuhkannya adalah skill dan kualitas bermain mereka. ”Yang jelas, mereka bisa di sini karena mewakili Prancis,” tegasnya. (rid/c19/ttg)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
