Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 November 2023 | 22.51 WIB

Menjadi Kroos atau Menjadi Lamptey

TATANG MAHARDIKA, Wartawan Jawa Pos - Image

TATANG MAHARDIKA, Wartawan Jawa Pos

Oleh Tatang Mahardika, wartawan Jawa Pos

PELE di usia 17 tahun: dengan sepak bola ’’puitik’’ yang lahir dari futebol-arte buah silang kultural di Brasil, membawa negaranya juara di Piala Dunia 1958 dengan penanda sebuah gol di final yang dikenang sebagai salah satu yang terindah.

Wayne Rooney di usia 17 tahun: gaya ’’berandalan’’ khas sepak bola jalanan anak-anak kalangan buruh membawanya ke tim nasional Inggris dan Manchester United di mana di keduanya dia kemudian menjadi pencetak gol terbanyak.

Tapi, di usia yang sama pula, seorang remaja berbakat bisa terperosok seperti Santiago Santamaria, pemain terbaik di Kejuaraan Dunia U-17 (per 2007 menjadi Piala Dunia U-17) 1997 yang bahkan gagal menembus timnas Spanyol kala menginjak fase senior. Atau jadi semacam pitawat ’’jangan seperti Nii Lamptey”, mengacu layunya pemain terbaik Kejuaraan Dunia U-17 1991 tersebut sebelum berkembang menjadi pesepak bola hebat seperti diprediksi banyak orang.

Usia 17 tahun memang persimpangan. Di depan sana, segala ’’what could have been” bisa terjadi.

Seandainya Neymar menjadi golden ball winner pada Piala Dunia U-17 2009, dengan segala keflamboyanannya, bukannya terlecut, jangan-jangan dia malah ayun-temayun dalam kesuksesan dini.

Apa yang terjadi seandainya Toni Kroos terpancing untuk keluar dari Bayern Muenchen, demi uang yang lebih besar, setelah menjadi pemain terbaik edisi 2007? Akankah Victor Osimhen bakal setajam sekarang seandainya tak sabar menjalani proses peminjaman di klub Belgia Charleroi tiga tahun setelah dia merebut golden ball di Piala Dunia U-17 2015?

Karena itu, nikmati saja pertunjukan bakat-bakat natural dari penjuru dunia di Piala Dunia U-17 ini. Di usia mereka atau di bawahnya, sepak bola yang dimainkan sepatutnyalah sepak bola kegembiraan yang tidak digelayuti target, kontrak, atau komersialisasi.

Tentu ini juga berlaku untuk Indonesia U-17. Biarkan mereka bebas berekspresi sebagaimana Pele datang ke Piala Dunia 1958 dengan semangat football-arte yang digambarkan sosiolog Gilberto Freyre dalam bukunya ’’Masters and Slaves” sebagai ’’perayaan kreativitas dan spontanitas individu”.

Sudah pasti mereka akan melakukan kesalahan, siapa yang tidak? Di usia ketika jakun mulai terlihat, emosi juga gampang lepas. Tapi, seperti itu juga Rooney di usia remajanya. Dari sana dia belajar, dari sana pula Iqbal Gwijangge dkk dan semua yang berlaga di empat stadion di Indonesia mulai hari ini bisa memetik pelajaran.

Ekspektasi berlebihan adalah musuh yang bakal mematikan bakat dan kemampuan. Dalam testimoninya, meski merasa terhormat, Lamptey mengaku betapa terbebaninya dia ketika sebutan ’’The Next Pele’’ disematkan oleh Pele sendiri. Freddy Adu yang sempat jadi harapan terbesar sepak bola Amerika Serikat juga terkubur oleh pengharapan yang melampaui kewajaran.

Yang juara atau tidak di Piala Dunia 2023 ini sama-sama punya peluang untuk menjadi besar di kemudian hari. Gelar pemain terbaik juga sama sekali bukan jaminan masa depan cerah.

Sebab, usia 17 tahun hanya persimpangan. Di depan sana juga ada Kroos, Lamptey, dan banyak sekali pemain yang bisa jadi cermin.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore