Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 17 Desember 2022 | 17.02 WIB

Dari Sejarah Anak Presiden Sampai Rekor Dua Mahabintang

SUNDULAN TERTINGGI: Youssef En-Nesyri - 2,78 meter (Maroko vs Portugal, Piala Dunia 2022). Hanya terpaut 15 sentimeter dari rekor Cristiano Ronaldo saat membela Real Madrid melawan Manchester United pada 2013. (AFP) - Image

SUNDULAN TERTINGGI: Youssef En-Nesyri - 2,78 meter (Maroko vs Portugal, Piala Dunia 2022). Hanya terpaut 15 sentimeter dari rekor Cristiano Ronaldo saat membela Real Madrid melawan Manchester United pada 2013. (AFP)

JawaPos.com - Piala Dunia 2022 bakal dipuncaki final yang berlangsung besok malam WIB. Juara bertahan Prancis akan berhadapan dengan Argentina di Lusail Iconic Stadium, Lusail.

Di luar soal siapa yang akan menjadi juara, ajang akbar di Qatar ini juga diwarnai dengan banyak kejutan dan rekor. Mulai fase grup sampai babak knockout.

Di hari kedua, misalnya, Timothy Weah sudah mencatatkan diri di buku sejarah lewat golnya ke gawang Wales. Dia menjadi anak presiden sebuah negara pertama yang bisa mencetak gol di Piala Dunia.

Tapi, dia tidak melakukan untuk Liberia, negara yang dipimpin sang bapak, George Weah. Melainkan untuk negara tempat dia lahir dan dibesarkan, Amerika Serikat.

Kebetulan, antara AS dan Liberia memang punya ikatan sejarah yang kuat. Adalah AS, lebih persisnya lewat organisasi American Colonization Society, yang pada abad ke-19 menginisiasi pengiriman budak kulit hitam yang telah bebas ke Pepper Coast yang sekarang dikenal sebagai Liberia.

”Sungguh perasaan yang luar biasa bisa mencetak gol di Piala Dunia. Saya tahu ibu dan ayah saya yang ada di tribun pasti juga ikut bangga,” kata pemain klub Ligue 1 Prancis Lille itu seperti dikutip dari Daily Mail.

Photo

GOL ANAK PRESIDEN: Gol Timothy Weah saat melawan Wales menjadikannya anak presiden pertama yang membuat gol di Piala Dunia. Dia anak Presiden Liberia George Weah yang bermain untuk Amerika Serikat. (AFP)

George Weah adalah pemain Afrika satu-satunya yang pernah memenangi FIFA Player of the Year. Capaiannya bersama AC Milan luar biasa. Tapi, dia tak pernah berhasil membawa Liberia ke Piala Dunia.

Kini sang anak, di usia yang baru 22 tahun, dan berposisi sama dengannya sebagai striker, bahkan telah mencetak gol di ajang akbar tersebut. Meskipun, seperti diakui Timothy, sebenarnya bukan sang ayah yang mengenalkannya ke sepak bola. Melainkan sang ibu, Clar Weah.

Menginjak ke babak fase gugur, Youssef En-Nesyri melambung tinggi berbarengan dengan kejutan negaranya, Maroko. Sundulan penyerang Sevilla itu kala membobol gawang Portugal di perempat final mencapai 2,78 meter.

Itu rekor di Piala Dunia. Lompatan En-Nesyri itu juga sudah melampaui tinggi lompatan terakhir Cristiano Ronaldo saat memperkuat Juventus mengalahkan Sampdoria di Serie A Italia. CR7 melompat 2,56 meter pada Desember 2019 tersebut. Tapi, masih ada rekor CR7 lainnya yang belum bisa dipecahkan En-Nesyri. Yakni, saat mahabintang Portugal itu membela Real Madrid melawan Manchester United di fase gugur Liga Champions pada musim 2012–2013 atau sembilan tahun silam. Ketika itu Ronaldo melompat setinggi 2,93 meter atau lebih tinggi 15 sentimeter daripada En-Nesyri.

”Momen itu (lompatan menyaingi CR7) yang selalu spesial bagiku,” ucap En-Nesyri seperti dikutip dari laman Koora.

Postur badan penyerang Sevilla itu yang setinggi 188 sentimeter jadi salah satu modal melakukan jump header tinggi. ”Kami juga sering melakukannya dalam sesi latihan,” imbuhnya.

Photo

GOL SOLO RUN: Julian Alvarez - 50 meter (Argentina vs Kroasia, Piala Dunia 2022). Diego Maradona menciptakan gol serupa di perempat final Piala Dunia 1986 melawan Inggris. Dengan jarak lebih jauh (68 meter) dan melewati pemain lebih banyak (5 termasuk kiper berbanding 3 termasuk kiper oleh Alvarez). (AFP)

Momen tak terlupakan lainnya di fase gugur adalah replika ”tipis-tipis” gol monumental Diego Maradona saat melawan Inggris di perempat final Piala Dunia 1986. Julian Alvarez melakukannya ketika menghadapi Kroasia di semifinal. Penyerang Manchester City itu solo run sejauh sekitar 50 meter (ada yang menyebut lebih), melewati Josip Juranovic dan Borna Sosa, sebelum membobol gawang Dominik Livakovic.

Tingkat kesulitan yang dihadapi Alvarez memang tidak setinggi Maradona pada 1986. Setidaknya ada empat pemain yang berusaha menghadang mahabintang Argentina tersebut sebelum akhirnya menjebol gawang Peter Shilton.

Tapi, yang dilakukan Alvarez itu tetap saja fenomenal. Dia baru 22 tahun dan di awal turnamen bukanlah pilihan pertama. Gol itu, ditambah satu gol lainnya hasil umpan Lionel Messi, juga mencatatkan dirinya sebagai pemain termuda yang bisa mencetak dua gol di semifinal Piala Dunia setelah Pele pada 1958. Dua gol dan dua mahabintang sekaligus disamai, atau setidaknya didekatinya: Maradona dan Pele.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore