Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 7 Desember 2022 | 16.43 WIB

Arigatou Samurai Biru, Kamsahamnida Kesatria Taegeuk

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - TENDANGAN Paik Seung-ho dari luar kotak penalti pada menit ke-76 itu tidak menolong situasi Korea Selatan (Korsel).

Gol gelandang lulusan La Masia seangkatan Marc Cucurella (Chelsea) di FC Barcelona B pada musim 2016–2017 tersebut hanya memperkecil ketertinggalan setelah Brasil memberondong empat gol dalam 36 menit pertama.

Tetapi, itulah gol pertama yang mampu menaklukkan kiper Brasil Alisson Becker di Piala Dunia Qatar. Brasil memang pernah kebobolan oleh kapten Kamerun Vincent Aboubakar dalam matchday terakhir grup G.

Hanya, yang bertugas di bawah mistar gawang Selecao bukan Alisson, melainkan Ederson Moraes.

Itu pun Aboubakar menunggu sampai injury time ketika pemain Brasil KW (karena Brasil mengganti sebelas pemain starting XI) kehilangan semangat meraih kemenangan.

Brasil sudah lolos ke babak 16 besar sebelum matchday terakhir.

Semangat meraih kemenangan itu pula yang ”diistirahatkan” pelatih Prancis Didier Deschamps dalam laga pemungkas grup mereka melawan Tunisia. Sebelas starter Portugal yang turun di laga terakhir grup H juga minus semangat tersebut.

Sebaliknya, ketika menghadapi Portugal saat itu, para pemain Korsel bermain ngosek karena memang hanya kemenangan yang membawa Son Heung-min dkk ke 16 besar.

Kerja keras Kesatria Taegeuk akhirnya tercapai berkat kerja sama apik antara Son dan rival Evan Dimas dkk di Piala Asia U-19 sembilan tahun silam yang sekarang berpostur kekar, Hwang Hee-chan.

Terkait sepak bola yang ditampilkan Kesatria Taegeuk, yang menonjolkan kengeyelan dan semangat juang tinggi sampai peluit panjang berbunyi, berhasil memikat pencinta sepak bola dunia.

Seperti membayar pengorbanan ketika kita begadang untuk menonton ajang yang hanya terjadi sekali dalam empat tahun.

Mungkin sepak bola yang dimainkan Son dkk pantas disebut dengan positive football. Antitesis dari negative football seperti dongeng Yunani kala memenangi Euro 2004.

Negative football tentu tidak salah. Pelatih legendaris Manchester United Sir Alex Ferguson berkata: ”Attack wins you games, defence wins you titles.”

Positive football pula yang mengantarkan Jepang melewati grup maut di Piala Dunia Qatar. Melewatinya pun dengan kesuksesan besar. Juara grup!

Pasukan Samurai Biru mempermalukan juara dunia empat kali Jerman dan berlanjut dengan menaklukkan Spanyol yang pernah sulit dikalahkan pada era berjaya di Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012.

Jepang sejatinya sudah main bagus melawan Kroasia di 16 besar. Sayang, babak tos-tosan tidak berpihak kepada Samurai Biru.

Dua dekade lalu atau saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002 bersama Korsel, Jepang yang berhasil menjadi juara grup juga terhenti di 16 besar.

Seiring gugurnya Kesatria Taegeuk dan Samurai Biru di 16 besar, tidak ada lagi wakil Asia dalam Piala Dunia 2022 yang notabene dimainkan di tanah Asia.

Gagal mengulang capaian Korsel yang menembus semifinal dua dekade lalu. Meski begitu, penampilan wakil Asia tidak bisa dibilang mengecewakan, malah membanggakan. Contohnya kemenangan heroik Arab Saudi atas Argentina. (*)

Editor: Candra Kurnia Harinanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore