
PACKING: Santri karyawan PPSD sedang melakukan pengepakan garam di Paciran, Lamongan. (PPSD FOR JAWA POS)
DARI semangat awal untuk menghidupi pondok, KH Abdul Ghofur, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat (PPSD), Paciran, Lamongan, melakukan berbagai kegiatan usaha di samping tetap berdakwah. Kini, unit-unit usaha pesantren tersebut berkembang begitu pesat. Hingga memiliki ribuan karyawan.
’’Prinsip Abah (sebutan KH Abdul Ghofur, Red) itu berani melarat untuk pondok. Berani melarat untuk perjuangan agama,’’ ucap Ketua Bidang Perekonomian PPSD Anas Alhifni. Pria yang biasa dipanggil Gus Anas itu menambahkan, arti dari prinsip tersebut adalah, seorang kiai harus berjuang dan berusaha menghidupi pondoknya. Bukan malah mencari penghidupan dari pondok.
Baca juga: Belajar Bisnis dari Pesantren, Ekspor Kopi ke Australia hingga UEA
Keuntungan dari aktivitas unit-unit usaha itu kini menjadi penopang jalannya kegiatan pesantren. Maka, tak heran jika para santri PPSD sampai saat ini tidak dibebani biaya SPP maupun administrasi yang mahal.
Photo
MANDIRI: Santri sedang melakukan proses produksi garam di UD Samudra Sunan Drajat. (PPSD FOR JAWA POS)
Saat ini, untuk asrama dan makan dua kali sehari, santri hanya membayar Rp 350.000 per bulan. Bahkan, dari 14 ribu santri yang kini menuntut ilmu di PPSD, seribu di antaranya ada yang dibebaskan biaya sama sekali. Mereka disebut santri karyawan. Selain belajar ilmu agama, mereka juga membantu pesantren dengan mengurusi unit-unit usaha milik pesantren.
Kini, PPSD sudah memiliki beberapa unit bisnis yang dikelola secara profesional. Misalnya, PT SDL yang bergerak di bidang produksi pupuk dan persewaan alat berat. Ada juga CV Aidrat yang memproduksi air minum dalam kemasan. Selain itu, PPSD sudah lama ’’bermain’’ dalam usaha garam dapur melalui UD Samudra Sunan Drajat. Untuk unit usaha garam, kemampuan produksi mereka saat ini mencapai 50 ton sehari. ’’Pemasarannya sudah masuk di Jawa dan Bali,’’ ujar Gus Anas.
Photo
JAMINAN MUTU: Garam UD Samudra Sunan Drajat siap dipasarkan setelah melewati proses produksi. (PPSD FOR JAWA POS)
Semua yang sudah disebutkan itu adalah unit bisnis PPSD yang mengarah ke pasar di luar pesantren. Di dalam lingkungan pesantren sendiri, PPSD juga mendirikan beberapa unit bisnis lain. Di antaranya, percetakan, kantin, minimarket, laundry, warnet, tekstil, sampai potong rambut. Jadi, semua kebutuhan buku, seragam, maupun keperluan sehari-hari santri berusaha dipenuhi sendiri oleh pesantren.
Photo
JAMINAN MUTU: Garam UD Samudra Sunan Drajat siap dipasarkan setelah melewati proses produksi. (PPSD FOR JAWA POS)
Unit-unit usaha tersebut di luar aktivitas Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) PPSD. Sampai saat ini, Kopontren PPSD terus bergerak di bidang keuangan syariah. Sudah ada sebelas cabang Kopontren PPSD. Total aset yang mereka miliki Rp 50 miliar. ’’Salah satu cabangnya ada di Madura,’’ imbuh Gus Anas.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=BuMZT8shUZw

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
