Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 29 Oktober 2020 | 20.15 WIB

Pondok Pesantren Sunan Drajat Produksi Garam Capai 50 Ton Per Hari

PACKING: Santri karyawan PPSD sedang melakukan pengepakan garam di Paciran, Lamongan. (PPSD FOR JAWA POS) - Image

PACKING: Santri karyawan PPSD sedang melakukan pengepakan garam di Paciran, Lamongan. (PPSD FOR JAWA POS)

DARI semangat awal untuk menghidupi pondok, KH Abdul Ghofur, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat (PPSD), Paciran, Lamongan, melakukan berbagai kegiatan usaha di samping tetap berdakwah. Kini, unit-unit usaha pesantren tersebut berkembang begitu pesat. Hingga memiliki ribuan karyawan.

’’Prinsip Abah (sebutan KH Abdul Ghofur, Red) itu berani melarat untuk pondok. Berani melarat untuk perjuangan agama,’’ ucap Ketua Bidang Perekonomian PPSD Anas Alhifni. Pria yang biasa dipanggil Gus Anas itu menambahkan, arti dari prinsip tersebut adalah, seorang kiai harus berjuang dan berusaha menghidupi pondoknya. Bukan malah mencari penghidupan dari pondok.

Baca juga: Belajar Bisnis dari Pesantren, Ekspor Kopi ke Australia hingga UEA

Keuntungan dari aktivitas unit-unit usaha itu kini menjadi penopang jalannya kegiatan pesantren. Maka, tak heran jika para santri PPSD sampai saat ini tidak dibebani biaya SPP maupun administrasi yang mahal.

Photo

MANDIRI: Santri sedang melakukan proses produksi garam di UD Samudra Sunan Drajat. (PPSD FOR JAWA POS)

Saat ini, untuk asrama dan makan dua kali sehari, santri hanya membayar Rp 350.000 per bulan. Bahkan, dari 14 ribu santri yang kini menuntut ilmu di PPSD, seribu di antaranya ada yang dibebaskan biaya sama sekali. Mereka disebut santri karyawan. Selain belajar ilmu agama, mereka juga membantu pesantren dengan mengurusi unit-unit usaha milik pesantren.

Kini, PPSD sudah memiliki beberapa unit bisnis yang dikelola secara profesional. Misalnya, PT SDL yang bergerak di bidang produksi pupuk dan persewaan alat berat. Ada juga CV Aidrat yang memproduksi air minum dalam kemasan. Selain itu, PPSD sudah lama ’’bermain’’ dalam usaha garam dapur melalui UD Samudra Sunan Drajat. Untuk unit usaha garam, kemampuan produksi mereka saat ini mencapai 50 ton sehari. ’’Pemasarannya sudah masuk di Jawa dan Bali,’’ ujar Gus Anas.

Photo

JAMINAN MUTU: Garam UD Samudra Sunan Drajat siap dipasarkan setelah melewati proses produksi. (PPSD FOR JAWA POS)

Semua yang sudah disebutkan itu adalah unit bisnis PPSD yang mengarah ke pasar di luar pesantren. Di dalam lingkungan pesantren sendiri, PPSD juga mendirikan beberapa unit bisnis lain. Di antaranya, percetakan, kantin, minimarket, laundry, warnet, tekstil, sampai potong rambut. Jadi, semua kebutuhan buku, seragam, maupun keperluan sehari-hari santri berusaha dipenuhi sendiri oleh pesantren.

Photo

JAMINAN MUTU: Garam UD Samudra Sunan Drajat siap dipasarkan setelah melewati proses produksi. (PPSD FOR JAWA POS)

Unit-unit usaha tersebut di luar aktivitas Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) PPSD. Sampai saat ini, Kopontren PPSD terus bergerak di bidang keuangan syariah. Sudah ada sebelas cabang Kopontren PPSD. Total aset yang mereka miliki Rp 50 miliar. ’’Salah satu cabangnya ada di Madura,’’ imbuh Gus Anas.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=BuMZT8shUZw

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore