
HPTKes lakukan studi banding ke India
JawaPos.com - Perkembangan ilmu pengetahuan di negeri India menarik minat kampus di dalam negeri untuk bekerja sama. Misalnya dengan yang dilakukan Himpunan Perguruan Tinggi Kesehatan Indonesia (HPTKes).
Pada akhir Januari lalu HPTKes resmi menandatangani MoU kerja sama dengan kampus India. Kemudian pada 10-17 Februari kemarin anggota HPTKes melakukan studi banding ke India.
Ada 16 anggota HPTKes yang ikut serta, yaitu Stikes Guna Bangsa Yogyakarta, Stikes Awal Bros Pekanbaru, Stikes Insan Cendikia Jombang, Stikes Widya Husada Semarang, Stikes Widya Nusantara Malang, Akademi Kebidanan Duta Dharma Pati, STIK Tamalatea Makassar, Stikes Mega Buana Palopo, Universitas Harapan Bangsa, STIE Stembi Bandung, STIE Ilmu Ekonomi Islam, AMIK YMI, serta dua kampus dari sekitaran Jakarta yaitu Stikes Banten serta Stikes Bani Saleh Bekasi.
Ada beberapa kerja sama yang disepakati. Diantaranya pertukaran dosen-mahasiswa, pelaksanaan seminar internasional, riset bersama serta melanjutkan studi S3 bagi dosen yang sudah memiliki gelar S2.
"Dalam waktu tiga bulan ke depan, sudah ada mahasiswa maupun dosen yang studi di India. Dari semua bidang farmasi, perawat, bidan, kesehatan masyarakat," sebut Sekjen HPTKes, Gunarmi Solikhin, Selasa (18/2).
Namun, untuk melangkah lebih jauh diperlukan izin dari Ristekdikti kepada empat kampus India yang bekerja sama. Keempat kampus itu yakni Krupanidhi Group of Institutons, Sharda University dan Nitte Group of Institutions, Acharya Institutes. Karena itu, pada kunjungan ke India lalu, sekaligus mendatangi Kedubes Indonesia untuk India di New Delhi.
Selain Ibu Kota India tersebut, rombongan HPTKes juga mengunjungi empat kampus yang berada di Bungalor serta Mangalor itu. Termasuk dua RS milik kampus, yaitu Nitte Hospital serta Acharya Hospital.
"Kami mengadakan seminar di masing-masing kampus dengan lima guest lecturer dari kampus di Indonesia. Yang berkesempatan untuk sharing dengan akademisi di sana," sebut Gunarmi.
Salah satu yang terbang ke India adalah Ketua Stikes Bani Saleh Shintha Silaswati. Ia mengaku takjub dengan sistem kesehatan yang sudah diterapkan di India. Misalnya integrasi pelayanan antara rumah sakit dan institusi pendidikan amat terkait.
"Misal ketika ada masalah baru dari pasien, RS memberikan ruang kepada PT atau fakultas untuk investigasi. Hasilnya dipublikasikan di depan dokter, perawat. Jadi sinergitasnya terasa," kata Sinta.
Ini yang membuat hasil paten dari setiap kampus di India terbilang banyak. Satu kampus bisa memiliki ribuan paten. Ilmu baru ini yang bisa diambil oleh kampus-kampus di Indonesia, "Di kita seperti ada gap. Ilmu pengetahuannya sudah tinggi tapi pelayanannya belum sampai. Saya kira ini menarik untuk dipelajari oleh kampus-kampus kita," sebut Sinta.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
