
MENGEDUKASI: Anak-anak PGTK Pelangi Ceria, Waru, belajar membuat simulasi gunung meletus.
JawaPos.com – Agnes Meviani, 5, sudah siap dengan berbagai alat peraga di ruang kelas sains di PGTK Pelangi Ceria, Waru, Selasa (2/5). Dia berdiri tegap di hadapan anak-anak playgroup dengan penuh percaya diri. Wajahnya begitu ceria saat akan menggantikan tugas (mengajar) sang guru. ”Adik-Adik, hari ini kita mau bikin gunung meletus ya,” kata Agnes dengan penuh semangat.
Tangan Agnes langsung mengambil soda, salah satu bahan untuk membuat gunung meletus. Di depannya, juga sudah disiapkan lilin malam yang telah dibentuk seperti gunung berwarna hijau. Lucu. ”Ada yang mau membantu menuangkan soda ini ke dalam kawah gunung?” serunya lagi.
Mendengar tawaran tersebut, Abiyyu Khaeruman Azam, 2, murid playgroup, langsung mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. ”Saya-saya, Kak,” teriak Abiyyu. Dengan telaten, Agnes membantu Abiyyu yang begitu semangat ingin membuat gunung meletus. Setelah soda dituangkan ke kawah, giliran pewarna merah yang dimasukkan. Lalu, cuka yang sudah berada di dalam alat suntik langsung dimasukkan ke selang kecil yang tersambung ke dalam gunung.
Tiba-tiba, busa berwarna merah keluar dari kawah gunung. Seluruh murid playgroup sangat senang. Begitu juga teman-teman TK A lain. ”Gunung meletusnya berhasil, Adik-Adik,” ungkap Agnes senang.
Ya, Selasa itu adalah jadwal kelas inspirasi di PGTK Pelangi Ceria. Bedanya, kelas inspirasi tersebut melibatkan murid TK A sebagai guru untuk mengajar anak-anak playgroup. ”Hari ini (Selasa, 2/5), jadwalnya anak TK A yang menjadi guru,” jelas Ryma Novalina, humas PGTK Pelangi Ceria, Waru.
Dia menyatakan, kegiatan kelas inspirasi tersebut menyesuaikan tema Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Yakni, education for all. Pemerataan pendidikan diberikan kepada siapa dan kapan saja. ”Semua anak berhak mendapatkan pendidikan,” ujarnya.
Melalui kelas inspirasi, lanjut Ryma, anak-anak TK A (4–5 tahun) atau TK B (5–6 tahun) dapat berbagi ilmu kepada murid playgroup (PG) yang berusia 2–3 tahun hingga 3–4 tahun. ”Anak TK A mengajar di PG A dan anak TK B mengajar di PG B,” tuturnya.
Sehari menjadi guru, anak TK A mengajarkan berbagai hal. Misalnya, sains gunung berapi. Anak-anak TK A menjelaskan proses gunung meletus serta mengenalkan bahan-bahan untuk mendemonstrasikan proses itu.
Ryma mengungkapkan, kegiatan kelas inspirasi tersebut bertujuan mendidik anak secara agar paham arti berbagi ilmu kepada orang lain. Selain itu, aktivitas tersebut dapat memunculkan rasa percaya diri anak sekaligus melatih mental siswa. ”Kadang usia anak TK itu egonya masih tinggi. Ketika menjadi guru, mereka belajar untuk sabar,” jelasnya.
Selain kelas inspirasi pagi, pihaknya membuat kelas inspirasi sore. Kali ini yang mengajar merupakan guru PGTK Pelita Ceria. Sasarannya adalah anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan. ”Kami ingin memunculkan minat belajar anak-anak yang tidak bersekolah. Mereka rata-rata merupakan anak pemulung yang sudah terbiasa mencari uang,” katanya. (ayu/c23/hud/sep/JPG)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
