
Ilustrasi
JawaPos.com – Selamat Hari Pendidikan Nasional! Setiap tanggal 2 Mei, menjadi momentum bagi dunia pendidikan untuk bangkit. Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dibenahi, namun tak sedikit pula keberhasilan yang sudah dicapai.
Hardiknas menjadi momentum bagi para insan pendidikan untuk menyuarakan harapan dan impiannya. Ada sejumlah harapan dan impian para pengajar di Indonesia di peringatan Hardiknas kali ini. Simak harapan mereka seperti dirangkum JawaPos.com, (2/5).
1. Guru Pendidikan Agama Islam di SMKN 1 Tapos, Depok, Hidayatullah
Menurutnya, peringatan Hardiknas adalah momen untuk memperkuat komitmen seluruh insan pendidikan agar peradaban dan daya saing bangsa bisa terwujud. Momen ini mengingatkan kembali kepada seluruh insan pendidikan akan filosofi perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam melaksanakan dasar dan arah pendidikan bangsa.
Perjuangan Ki Hajar Dewantara meningkatkan rasa nasionallisme di kalangan insan pendidikan. “Dengan Hardiknas kita tingkatkan kualitas iman, takwa, ilmu pengetahuan serta teknologi menuju hari esok yang Gemilang,” kata Hidayatullah.
2. Guru SMPIF Al Fikri Sukmajaya Depok, Lia Puspita Sari
Menurut Lia, Hardiknas patut diperingati oleh bangsa Indonesia setiap tahunnya. Hardiknas berawal dari perjuangan Ki Hajar Dewantara dengan mottonya Tut Wuri Handayani. Sosok Ki Hajar Dewantara gigih memperjuangkan pendidikan di Indonesia dan diteladani hingga saat ini.
Tujuannya untuk memajukan bangsa Indonesia di kancah dalam negeri maupun internasional. Lia menambahkan, 20 tahun ke depan, Indonesia merupakan salah satu negara yang paling disegani karena memiliki pemuda-pemudi yang produktif dalam membangun negerinya dan berperan aktif bagi kontribusi internasional.
“Maka dengan semangat tersebut diharapkan anak didik berkembang dengan baik dalam proses pembelajaran untuk mencapai cita-cita mereka. Guru pun secara kreatif dan berkelanjutan berkontribusi untuk terus mendorong, memotivasi dan mengarahkan anak didik untuk selalu optimis dalam belajar untuk menggapai cita-citanya," ungkap Lia.
3. Direktur Sekolah Al-Ma’mun Education Center (AMEC) Bojongsari Depok, Ma'mun Ibnu Ridwan
Menurut Ma’mun, kurikulum nasional perlu diperbaiki secara bertahap, tidak perlu seperti sebelumnya ada anekdot “ganti menteri ganti kurikulum”. Menurutnya perlu juga dibangun keseimbangan sarana dan prasarana sekolah swasta dan negeri. Pasalnya sejak ketentuan 20 persen APBN untuk pendidikan, sarana prasarana sekolah negeri terus diperbarui tetapi sekolah swasta ketinggalan.
Ma’mun menilai guru sekolah negeri lebih mudah mendapat tunjangan sertifikasi, sedangkan biaya sekolah negeri gratis. Berbeda dengan sekolah swasta yang berbayar untuk membiayai operasional sekolah. Kemudian dalam penerimaan murid baru, sekolah swasta wajib menerima siswa miskin 20 persen, padahal yang mendaftar ke sekolah swasta adalah murid yang tidak diterima di SMP/SMA negeri karena nilai dan biaya yang tak mencukupi.
“Hal-hal seperti ini masih menjadi catatan. Mayoritas anak-anak yang diterima di sekolah negeri adalah anak-anak pintar dan kaya. Semestinya supaya adil, sekolah negeri hanya 20 persen untuk anak pintar dan kaya, jadi banyak anak miskin mendapat prioritas. Biar swasta tidak jadi keranjang sampah. Sekolah swasta yang maju hanya sedikit tidak sampai 2 persen, dan itupun sekolah internasional,” tukas Ma’mun.
4. Guru SMAN 2 Sragen, Jawa Tengah, Cuk Suharyadi
Cuk lebih menyoroti Hardiknas dan tantangan zaman yang dihadapi para guru. Setelah kesejahteraan guru terperhatikan lewat sertifikasi, guru sekarang dipacu lebih update dan upgrade sesuai tuntutan zaman.
“Baik yang difasilitasi pemerintah lewat diklat-diklat maupun kesadaran sendiri lewat kursus dan diklat-diklat mandiri. Dan semoga pemerintah ke depan semakin memerhatikan pendidikan sebagai pilar generasi di negeri ini,” tutup Cuk. (cr1/JPG)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
