
KERJA KERAS: Wendi Harjupa dengan piagam best paper diperolehnya.
JawaPos.com - Wendi Harjupa tidak menyangka risetnya bisa juara dalam International Symposium of Weather Radar and Hydrology yang diadakan di Universitas Korea, Seoul, Korea Selatan, pekan lalu.
Tak hanya juara, riset itu membuahkan pencapaian baru. Mahasiswa PhD jurusan Meteorological Disaster Kyoto University, Jepang, tersebut mendapatkan gelar best paper mengalahkan peserta lain.
Saingannya berasal dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, Prancis, Swedia, Israel, Jerman, Jepang, dan Korea Selatan. ’’Saya pikir waktu itu terlalu naif jika berharap menang, karena ini ada riset awal saya. Dan simposium ini diikuti oleh negara maju, yang punya methodologi riset yang sudah mutakhir,’’ papar Wendi yang melanjutkan kuliah dengan beasiswa Riset-pro tersebut.
Wendi memaparkan, papernya berisi seputar riset yang dilakoninya selama program doctoral. ’’Ini adalah bagian dari riset PhD saya. Ini adalah tahap awal riset saya dalam menggabungkan satelite cuaca dan radar cuaca,’’ ujarnya.
Dengan menggabungkan satelit cuaca dan radar cuaca, kata Wendy, kita bisa mengetahui pertumbuhan awan dari awal terbentuknya awan tersebut. Tujuannya, bisa memprediksi terjadinya hujan besar di beberapa waktu kedepan.
Saat ini, Wendi masih mencoba metodelogi risetnya di Jepang dan selanjutnya mengaplikasikan metodelogi tersebut ke Indonesia.
Menurutnya, Indonesia negara yang sangat luas dan sangat komplek secara meteorologi. "Cuaca di Indonesia dipengaruhi oleh banyak sirkulasi global," katanya.
Dengan alasan itu, Indonesia, kata Wendy, butuh penguasaan teknologi dalam hal pemantauan cuaca. "Kita butuh alat yang bisa menjangkau semua kawasan Indonesia. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan menggunakan satelit cuaca."
Dengan pemanfaatan satelit, kita juga bisa memantau kemungkinan bencana yang akan terjadi untuk semua wilayah Indonesia. ’Nantinya saya berharap para ahli satelit dan radar Indonesia bisa bersatu dalam satu wadah untuk melakukan riset bersama tentang penerapan teknologi satelit dan radar dalam penentuan cuaca dan iklim Indonesia,’’ ucapnya. (ina/tia)

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
