
Ilustrasi
JawaPos.com - Menjadi orang tua bagi anak kembar mempunyai banyak tantangan. Pakar psikologi perkembangan Universitas Airlangga Primatia Yogi Wulandari mengatakan tantangannya sudah ada sejak anak dalam kandungan, persiapan menjadi orang tua anak kembar lebih banyak.
Mulai dari persiapan nutrisi saat mengandung, hingga saat proses kelahiran berlangsung. Calon orang tua dari bayi kembar biasanya perlu mencari referensi lebih. Di samping itu, memiliki anak kembar berarti membutuhkan usaha, baik dalam bentuk tenaga maupun waktu, yang lebih besar daripada satu anak saja, apalagi bila kembar tiga, empat, dan seterusnya.
Sebagai contoh, ketika mengganti popok, maka orangtua harus bergantian melakukannya. Dan sementara mengganti popok salah satu anak, orangtua pun masih harus terbagi perhatiannya dengan tingkah laku anak yang lain.
Di bulan-bulan pertama, orangtua harus belajar menyesuaikan diri dengan ribut dan tangisan yang bersahut-sahutan. Oleh karena itu, kesiapan emosional pada orangtua anak kembar sangat penting.
Sebaiknya orangtua saling mendukung di dalam pengasuhan, misalnya, saat tengah malam anak kembar itu bangun dan menangis atau saat salah satu anak dimandikan oleh ibu, maka bapaknya bisa menggendong anak yang lain.
Bila memang bapak memiliki keterbatasan waktu untuk memberikan dukungan secara penuh, maka pihak ketiga, seperti nenek-kakek atau asisten rumah tangga, akan lebih membantu.
’’Belum berhenti sampai disitu, di tahap tumbuh kembang berikutnya, tantangan orang tua akan berbeda,’’ ucap perempuan yang akrab disapa Mima tersebut. Misalnya, di masa anak-anak aktif, orangtua membutuhkan kewaspadaan lebih untuk dapat menjaga anak kembar mereka. Di tahapan ini, tidak jarang anak kembar menjadi “partner-in-crime” di lingkungan sosialnya.
Untuk itu, orangtua perlu lebih kreatif dalam menangani anak yang semakin aktif. Diusahakan segala aturan yang ada di rumah diberikan kepada anak melalui diskusi dan persetujuan anak. Bila mereka diikutkan dalam proses pendisiplinan ini, maka diharapkan saudara kembarnya dapat menjadi pengingat bila ada saudaranya yang melanggar aturan dari orangtua.
Di sisi lain, semakin besar si kembar, tentunya orang tua menjadi paham bagaimana kemampuan akademis dari masing-masing anak kembarnya. Anak kembar memang terlahir dengan unsur genetis yang serupa, terutama mereka yang kembar identik.
Namun, tidak semua kemampuan yang dimiliki akan sama persis. Seiring dengan usia, pengaruh lingkungan dapat membuat anak kembar menjadi individu yang berbeda, termasuk di dalam hal akademik. Untuk itu, sebaiknya orangtua tidak mengharapkan anak kembarnya memperoleh prestasi yang sama.
Penekanan akan kelebihan yang dimiliki tiap anak akan membantu mereka menyadari bahwa setiap individu memiliki kelebihan dan kelemahan, dan mereka dapat saling membantu kelemahan saudaranya dengan belajar bersama. (ina/tia)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
