
BELAJAR: Andhyta Firselly Utami di Universitas Harvard.
JawaPos.com - Kuliah di salah satu kampus Ivy League yang merupakan asosiasi delapan universitas besar Amerika Serikat menjadi kebanggaan tersendiri. Andhyta Firselly Utami, 25 yang mewakili Harvard ke ajang World Government Summit 2017 berbagi tip untuk mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dan seputar perkuliahannya di Harvard.
’’Ada sekitar 30 mahasiswa Indonesia di Harvard. Semuanya tersebar di jurusan lain seperti Kebijakan Publik, Bisnis, Arsitektur/Desain, Teori Islam, dan Pendidikan,’’ ujar Afutami –nama panggilannya- yang belajar di jurusan public policy tersebut.
Untuk mendapatkan LoA, ada empat elemen aplikasi yang harus dipenuhi. Test GRE dan TOEFL, resume, tiga esai, dan tiga surat rekomendasi. Semua, lanjutnya, dinilai secara keseluruhan, atau tidak ada batas minimum yang strict.
Afu mencontohkan di jurusannya sendiri, Harvard Kennedy School (HKS). Jurusan ini mencari mahasiswa yang memiliki komitmen di pelayanan publik dan memiliki track record kepemimpinan. Selain itu, ada organisasi Indonesia Club at Harvard juga memiliki channel YouTube yang membahas lebih lanjut tentang proses aplikasi ini.
Afutami sendiri memilih HKS karena program yang ditawarkan sangat cocok untuk yang berpola pikir generalis, bukan spesialis. Di hari pertama orientasi menurutnya semakin diperjelas bahwa mahasiswa HKS diharapkan untuk memiliki wawasan yang luas dalam berbagai isu (bukan hanya satu), namun didasari oleh keterampilan yang kuat dalam kerangka analisis yang berbasis teori ekonomi dan statistik, kepemimpinan dan manajemen, serta komunikasi dan negosiasi.
’’Lokasinya pun di Cambridge, kota yang tidak terlalu ‘bising’ seperti New York atau kota besar lain,’’ ujar Afu yang mendapatkan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tersebut.
Untuk perkuliahan di HKS, setiap tiap semester mahasiswa dianjurkan untuk ambil 20 SKS, atau sama dengan sekitar lima kelas dan sampai 10 modul.
Semester ini, Afu mengambil tiga kelas dan empat modul. Dengan jadwal kelas Senin sampai Kamis dari jam 10.00 sampai 16.00 sore. Beberapa modul ada yang sampai malam hari. ’’Tapi yang paling memakan waktu sebenarnya tugas reading, ini penting untuk mahasiswa agar memiliki pemahaman sebelum berdiskusi di kelas, dan problem set untuk kelas yang lebih kuantitatif,’’ imbuhnya.
Di luar kelas, Afu juga terlibat di beberapa kegiatan mahasiswa seperti klub Energi & Lingkungan, Climate Justice, Indonesia Club at Harvard, dan mulai semester depan Afu akan menjadi Managing Editor di The Citizen (koran mahasiswa HKS).
Biasanya kegiatan ini berlangsung di antara atau setelah kelas. Pesan Afu untuk pelajar Indonesia yang ingin kuliah di Harvard, agar jangan pernah masuk Harvard hanya untuk namanya saja, karena kalau jurusannya tidak sesuai dengan apa sebenarnya diinginkan, nanti kuliahnya bisa tertekan. ’’Dua tahun untuk master bukan waktu yang singkat,’’ ungkapnya. (ina/tia)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
