Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 Februari 2017 | 01.18 WIB

Hobi Memotret Aldi Cipta Jadi Ladang Bisnis, Paling Semangat Menunggu Momen

SABAR: Gaya Aldi ketika mengarahkan model dalam sesi pemotretan. - Image

SABAR: Gaya Aldi ketika mengarahkan model dalam sesi pemotretan.

Berbicara foto bukan hanya soal hasil, tetapi juga proses penciptaannya. Gambar dalam foto akan sempurna dan bercerita jika fotografer ’’menciptakannya’’ dengan matang.



’’AGAK miring ke kiri sedikit. Tangan kiri coba ditaruh dagu. Nah, sip,’’ begitulah arahan Aldi Cipta Pratama Wisnuwardhana kepada salah seorang model saat melakukan sesi foto di beranda perpustakaan SMAK St. Louis Surabaya, Sabtu (11/2).


Pukul 11.20 nyangklong kamera DSLR, penampilan Aldi siang itu bak fotografer profesional. Aldi terlihat luwes kala mengarahkan modelnya untuk mendapatkan angle yang tepat. Agar hasilnya maksimal, Aldi mengambil sudut pemotretan yang tidak kalah seru dari sang model. Mulai berdiri, pasang kuda-kuda, hingga nglesot.


Totalitas remaja kelahiran 6 Juli 2000 dalam fotografi itu tidak terlepas dari kecintaannya pada kamera sejak duduk di bangku kelas VI. Waktu itu sang ayah yang memiliki sebuah kamera mengajak Aldi untuk berburu foto lanskap pantai di Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT). ’’Mulai saat itu saya tertarik dengan fotografi karena bisa mengabadikan keindahan alam,’’ tutur siswa kelas XI IPS 1 itu.


Hobi barunya tersebut membuatnya ketagihan. Putra sulung pasangan Paulus Cok Cipto-Agatha Aster itu pun mulai intens memotret berbagai sudut pemandangan di kota yang sempat ditinggali tersebut. Waktu itu sih masih asal jepret.


Dia belum mengetahui ilmunya. ’’Hasilnya, selain dapat foto, dua kamera papa rusak,’’ tuturnya, lantas terkekeh.


Ketua ekstrakurikuler fotografi SMAK St. Louis itu mengisahkan, dunia fotografi baru serius ditekuni ketika SMP. Aldi kala itu sudah bergabung dengan komunitas fotografi Mofers di Maumere. Tergabung sebagai anggota termuda dalam komunitas tersebut, dia mulai banyak belajar teknik penggambilan gambar. Mulai pencahayaan, setting mode foto, hingga penempatan kamera.


Sudah mengetahui teknik dasar fotografi, Aldi lantas memberanikan diri untuk mengikuti lomba tingkat sekolah di SMP Frater. Saat itu Aldi berhasil jadi juara. Kondisi tersebut tidak membuatnya segera puas. Pada 2014 dia kembali mengikuti kompetisi di SMA Frater. Dalam kompetisi itu, Aldi harus bersaing ketat. Sebab, pesertanya datang dari pelajar SMP se-Provinsi NTT dan Bali. ’’Lombanya tentang foto makanan tradisional NTT,’’ ungkapnya. Dalam kompetisi itu, dia juga menjadi juara setelah bersaing dengan ratusan peserta.


Selain bangga lantaran karyanya mendapatkan apresiasi, dia menyadari adanya tantangan dalam setiap kali memotret. Itulah yang membuat Aldi semakin betah untuk mendalami fotografi. ’’Ketika fotografer harus sabar menunggu momen, itu selalu bikin saya bersemangat,’’ ucapnya. Misalnya, memotret matahari terbit dan tenggelam atau gerhana.


Untuk mendapatkan hasil terbaik, seorang fotografer kadang dituntut untuk ekstrasabar. Pengalaman tersebut pernah dialami Aldi saat memotret makro, memotret dengan jarak yang sangat dekat untuk mendapatkan detail yang tinggi.



Ketika itu Aldi berburu capung jarum yang berkeliaran di sekitar pantai. Namun, proses itu tidak berjalan mulus. Belasan kali dia gagal lantaran si objek selalu kabur. Terbang ke dahan satu dan lainnya. ’’Foto baru berhasil diambil setelah proses hunting selama tiga jam,’’ ucapnya. (elo/c15/jan/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore