
ASLI INDONESIA: Prof Dr Bambang Prajogo Eko Wardojo MSApt bersama karyanya, kapsul kontrasepsi pria.
Setiap pengobatan tradisional harus dikembangkan. Kalau tidak, resep turun-temurun itu bisa punah dan tergerus zaman. Melalui pendekatan etnomedisin, Prof Dr Bambang Prajogo Eko Wardojo MSApt menemukan kontrasepsi pria dari gandarusa.
”PENGGUNAAN gandarusa sebagai alat kontrasepsi pria ini sebenarnya sudah dikenal masyarakat Papua. Tapi, waktu itu belum ada pembuktian ilmiah,” ungkap Bambang saat ditemui Jawa Pos di Ruang Departemen Farmakognosi Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Rabu (11/1).
Ide awal penelitian tumbuhan bernama latin Justicia gendarussa Burm.F tersebut tercetus pada 1987. Saat itu dia tertarik pada hasil temuan seorang profesor UGM yang meneliti varietas tanaman di Papua. Salah satu tanaman tersebut adalah gandarusa.
”Di sana (Papua, Red), tanaman gandarusa diolah dengan sederhana. Direbus,” terang guru besar yang memperoleh penghargaan Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa (AKIL) dari Departemen Pendidikan Nasional itu.
Pria kelahiran 17 Desember 1956 tersebut mengatakan, dirinya meneliti daun itu melalui serangkaian uji laboratorium. Dari uji tersebut, Bambang menemukan beberapa senyawa. Salah satunya, senyawa flavonoid.
Bahan itu memiliki keunggulan bisa melemahkan enzim di spermatozoa. Enzim tersebut juga berfungsi meluruhkan lapisan luar sel telur sehingga menghambat pembuahan.
Bukan hanya satu. Bambang menemukan 12 komponen flavonoid di gandarusa yang semuanya bisa membantu menyukseskan efektivitas kapsul kontrasepsi. Yakni, mencegah kehamilan saat berhubungan badan.
Untuk membuktikan efektivitas tersebut, perjuangan Bambang tidaklah mudah. Sejak 2006, ayah tiga anak itu melakukan serangkaian uji preklinik hingga klinik. Hal tersebut merupakan prosedur kelayakan obat. Mulai mencit sampai uji manusia.
Risetnya terbilang lancar, obat terbukti efektif. Obat yang dikonsumsi pasien berhasil menghambat pembuahan. ”Bahkan untuk uji di manusia, ada yang gairah seksnya lebih tinggi setelah minum kapsul kontrasepsi ini,” jelas penghobi otomotif itu.
Ada serangkaian tahapan penelitian bahan alam yang harus dijalaninya. Di antaranya, proses ekstraksi dan fraksi. Peneliti, lanjut dia, memisahkan beberapa bahan yang kurang bermanfaat pada fungsi pengobatan yang dituju.
Dalam gandarusa, menurut dia, terdapat banyak senyawa. Senyawa yang tidak bermanfaat dihilangkan dalam proses fraksi. ”Inilah yang membedakan pembuatan obat modern dengan tradisional. Modern lebih efektif,” jelasnya.
Selain efektif, pengujian modern menghindarkan senyawa yang berbahaya masuk dalam tubuh saat pengobatan. Dia mencontohkan, di gandarusa ada senyawa alkaloid yang beracun dan membahayakan tubuh.
”Jadi, meski menggunakan obat herbal, perlakuan dan pembuatannya tidak boleh asal,” tuturnya.
Hasil penelitiannya itu membuktikan keampuhan obat tradisional. Juga, membantu pengobatan tradisional agar tidak punah. Apalagi, potensi pengembangan pengobatan herbal di Indonesia sangat tinggi.
Sebab, negeri tropis ini memiliki banyak jenis tanaman obat. Jumlahnya sekitar tujuh ribu jenis. Meski demikian, baru 940 jenis yang berhasil diidentifikasi mempunyai khasiat obat.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
