
TEKUN: Angga (kiri) mengikuti arahan terapisnya dalam sesi belajar. Dia memilih pusat terapi sebagai tempat mengembangkan diri. (DOKUMENTASI PUSAT TERAPI LENTERA FAJAR)
SEPULUH tahun lalu, Dorein Adelhid memasukkan putranya ke sekolah inklusi. Raffa Ahmad Anggaraksa, sang buah hati, mengidap autistic spectrum disorder (ASD). Ketika itu, dia mendatangi dua sekolah dasar (SD). Lalu, Angga diterima di salah satu sekolah tersebut. "Tapi, setelah satu bulan, saya memutuskan mundur,” ungkap ibu tiga anak yang tinggal di Sidoarjo itu ketika berbincang dengan Jawa Pos pekan lalu.
Ketika itu, menurut Dorein, sistem sekolah inklusi belum sebagus sekarang. Ada beberapa hal yang membuat dia kurang nyaman. Terutama terkait lingkungan sekolahnya. Yang paling dia keluhkan saat itu adalah jajanan. Karena Angga sensitif pada beberapa zat tertentu, Dorein menjaga benar makanan dan jajanan yang dikonsumsi putranya. "Ada jajanan dengan penguat rasa yang setahu saya seharusnya tidak dijual di sekolah inklusi,” ungkapnya.
Selain soal jajanan, Dorein juga keberatan pada kebijakan sekolah yang tidak menyediakan pendamping khusus atau shadow di kelas Angga. Karena itu, dia kemudian menarik Angga dari sekolah inklusi tersebut dan memindahkannya ke pusat terapi. Memang bukan lembaga pendidikan formal, tapi bisa mengakomodasi kebutuhan Angga.
"Saya menyadari kemampuan anak saya seperti apa. Jadi, pusat terapi ini pilihan utama kami,” lanjut Dorein. Sampai sekarang usia Angga 17 tahun, dia masih menuntut ilmu di pusat terapi. Fokus terapi memang beda dengan sekolah formal atau lembaga lain. Tujuan utama pusat terapi adalah menumbuhkan kemandirian anak-anak inklusi.
Dorein mengaku tidak keberatan dengan prioritas pendidikan di pusat terapi tersebut. Perempuan yang berprofesi desainer itu juga tidak pernah membebani Angga dengan tuntutan nilai-nilai akademis yang tinggi. "Saya tidak memaksa soal akademis. Yang penting, Angga jadi mandiri. Itu sudah cukup bikin seorang mama tenang,” tegasnya.
Kini Angga sudah memahami banyak hal. Kemampuan menghafal doa dan bacaan salat juga bagus. "Memang kadang pelafalannya masih tidak jelas,” imbuh Dorein.
Pusat terapi, menurut Dorein, juga memedulikan aspek sosial anak didik. "Setiap sesi terapi disisipi dengan waktu khusus sosialisasi,” ujarnya. Anak didik dari berbagai kelas diajak berkumpul dalam satu ruangan untuk berinteraksi satu sama lain. Dorein mengatakan bahwa sesi tersebut sangat membantu Angga dalam mengenal beragam karakter.
Ada pula sesi sosialisasi di luar pusat terapi. "Jadi setiap hari Sabtu, ada outing class yang membantu anak-anak belajar berinteraksi di luar tempat terapi,” paparnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
