Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 Maret 2022 | 23.35 WIB

Bangun Kultur Sekolah Dulu, Jangan Asal Ganti Kurikulum

Siswa saat mengikuti kegiatan belajar sacara tatap muka dengan kapasitas 50 persen  di Sekolah Dasar Negeri 014 Pondok Labu, Jakarta Selatan, Jumat (4/2/2022). Presiden Jokowi meminta pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) dievaluasi, terutama di 3 pro - Image

Siswa saat mengikuti kegiatan belajar sacara tatap muka dengan kapasitas 50 persen di Sekolah Dasar Negeri 014 Pondok Labu, Jakarta Selatan, Jumat (4/2/2022). Presiden Jokowi meminta pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) dievaluasi, terutama di 3 pro

JawaPos.com - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menjadi kementerian paling sibuk tahun ini. Selain menggodok RUU Sisdiknas, kementerian yang dipimpin Nadiem Anwar Makarim ini juga menyiapkan perubahan kurikulum baru.

Sejumlah kalangan mengingatkan supaya Kemendikbudristek tidak buru-buru mengubah atau menghadirkan kurikulum baru. Diantaranya disampaikan pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal. ’’Seperti kita ketahui pemberitaan dunia pendidikan yang marak sekarang adalah revisi UU Sisdiknas dan ganti kurikulum,’’ kata Rizal di sela webinar bulanan Ng(k)aji Pendidikan pada Senin (28/3).

Rizal mengatakan saat ini  yang mendesak untuk dijalankan oleh pemerintah atau Kemendikbudristek adalah membangun kultur sekolah. Khususnya kultur sekolah yang memanusiakan peserta didik. Kultur seperti ini bisa menyiapkan peserta didik ketika kelak bersinggungan dengan pemanfaatan kecerdasan buatan di segala lini kehidupan.

Menurut dia, dunia pembelajaran selama ini sering terjebak pada fenomena mengejar hasil belajar. Contohnya mengejar nilai ujian, urusan administrasi, dan akreditasi sekolah.

"Mereka seperti lupa untuk menaruh perhatian pada pengalaman dan karakter belajar siswa," tuturnya.

Rizal mengatakan untuk membangun kultur baru di sekolah, perlu menghadirkan paradigma yang baru. Diantaranya siswa perlu mengalami proses belajar yang baru. Sehingga menghasilkan cara berpikir yang berbeda pada anak-anak. Para siswa dibiasakan untuk mengasah kemampuan bernalar serta terbangun kesadaran dirinya.

"Pembiasaan baru seperti itu, tidak bisa langsung dijawab dengan kurikulum baru," katanya.

Tetapi perlu dibangun kultur sekolah masa depan yang memanusiakan peserta didik, guru, dan warga sekolah lainnya. Menurut Rizal, penerapan kurikulum baru tanpa ada penciptaan kultur sekolah, seperti sebuah bangunan yang mudah roboh. Dia mengibaratkan sebuah bangunan yang tampak indah dari luar, tetapi di dalamnya tidak kokoh dan mudah roboh.

Rizal mengatakan di sekolah perlu dibangun sebuah kultur yang berorientasi membangun pengalaman baru peserta didik. Sehingga dapat memantik karakter peserta didik yang ketagihan belajar. Karakter siswa yang ketagihan belajar ini bisa dibangun ketika sekolah atau guru memandang siswa sebagai manusia yang perlu dikembangkan kodratnya.

"Perlu dibangun asumsi dasar siswa harus diberi kebebasan untuk mengekspresikan rasa ingin tahunya yang tinggi," tuturnya.

Kemudian mengembangkan imajinasi serta kreativitasnya untuk mendukung minat dan bakatnya. Jika semua ini sudah terbangun, maka siswa akan menjalankan pola pembelajaran mandiri.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore