Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 September 2021 | 01.42 WIB

Pakar Pendidikan: Orang Tua yang Mengeluh PJJ, Anaknya Siap Sakit?

Sejumlah murid saat menjalani uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) tahap dua di SDN Malaka Sari 13 Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (9/6/2021). Dinas Pendidikan DKI Jakarta menggelar uji coba pembelajaran tatap muka tahap 2 yang diikuti 226 sekolah. Sis - Image

Sejumlah murid saat menjalani uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) tahap dua di SDN Malaka Sari 13 Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (9/6/2021). Dinas Pendidikan DKI Jakarta menggelar uji coba pembelajaran tatap muka tahap 2 yang diikuti 226 sekolah. Sis

JawaPos.com - Dalam masa pandemi ini, banyak orang tua yang mengeluh akan kesanggupan mereka mendampingi anaknya dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Untuk itu, orang tua menuntut dilaksanakannya pembelajaran tatap muka (PTM).


Namun diketahui bahwa kondisi saat ini pandemi belum benar mereda. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah orang tua yang mengeluh siap apabila anaknya sakit apabila melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) akibat tidak patuh protokol kesehatan?


Hal itu diungkapkan oleh Pakar dan Praktisi Pendidikan Arief Rahman. Sebab, hak sehat anak di masa ini adalah yang nomor satu.


"Kalau mereka (orang tua) mengatakan kami sudah capek, sudah jenuh melayani anak-anak di rumah, saya mau tanya saja, kalau jenuh, capek, siap nggak untuk anaknya nanti sakit," kata dia dalam diskusi Sekolah Tatap Muka, Dilema Pendidikan di Tengah Pandemi Tak Berujung, Rabu (15/9).


"Saya kena korona tidak bisa apa-apa, pengalaman yg saya alami ini bisa menjadi cermin. Nomor satu itu bukan pendidikan, tapi adalah kesehatan," sambungnya.


Selain itu, ia juga menyinggung bencana pendidikan, apakah jika belajar secara online, Indonesia akan gagal dalam menciptakan generasi unggul. Kata dia, yang perlu dilakukan adalah berusaha seoptimal mungkin agar target tersebut tetap bisa terwujud.


"Jadi rencana kualitas SDM ini melalui pendidikan, itu kita hanya diperbolehkan sesuai dengan definisi pendidikan, yaitu hanya usaha, usaha yang terencana, yang sadar untuk mengembangkan potensi iman, ilmu, kesehatan, amal," tutur dia.


Jadi, penyesuaian perlu dilakukan ditengah krisis seperti ini. Salah satunya dengan PJJ. "menyesuaikan, jadi orang yang tidak bisa menyesuaikan itu orang yang keras kepala. Kalau kita mempunyai target ya itu boleh, tetapi tidak perlu maksimal, cukup optimal saja," ungkap dia. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore