Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 Maret 2021 | 23.41 WIB

SMK Pusat Keunggulan Disebut Tak Selesaikan Masalah Pendidikan Vokasi

Siswa SMKN 12 Surabaya praktik di bengkel. - Image

Siswa SMKN 12 Surabaya praktik di bengkel.

JawaPos.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah meluncurkan Pogram Merdeka Belajar episode kedelapan, yakni program SMK Pusat Keunggulan. Program baru itu pun langsung mendapat kritikan dari Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G).

Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim mengatakan, program itu tidak dapat menyelesaikan permasalahan di pendidikan vokasi. "Seunggul apapun jargon atau nama program revitalisasi SMK, sepanjang persoalan fundamental SMK tak dibenahi secara mendasar dan komprehensif, maka SMK masih akan bermasalah," ungkapnya kepada JawaPos.com, Jumat (19/3).

Kata dia, program baru ini sama sekali tak menyentuh persoalan pokok SMK, yaitu mengalami kekurangan guru. Apalagi di SMK yang harusnya ahli pada jurusan di bidangnya jumlahnya masih sangat sedikit.

"SMK banyak diisi oleh guru mata pelajaran normatif (seperti PPKn, Agama, Bahasa) dan mata pelajaran adaptif (Bahasa Inggris). Mestinya kekurangan guru mata pelajaran produktif ini yang dipenuhi dulu. Mengingat 'core program' SMK sesungguhnya terletak pada mata pelajaran produktif," imbuhnya.

Kemudian, menurutnya SMK saat ini juga kekurangan bengkel dan ruang praktik. Oleh karena itu, praktik pembelajaran SMK diberikan secara naratif.

"Itu yang kita sebut selama ini dengan anekdot SMK Sastra atau SMK Bahasa. Mestinya ruang praktik dan bengkel dicukupi, dilengkapi, dan dimodernisasi sehingga betul-betul mampu memfasilitasi siswa-guru dalam meningkatkan keterampilan siswa (terampil) agar nantinya bisa diterima dunia kerja," ucap dia.

Lalu sebaran SMK di Indonesia saat ini kurang pantauan. Dengan begitu akan sangat sulit memantau potensi lulusan yang memiliki daya saing di dunia kerja.

Selain itu, persoalan lain dalam pendidikan vokasi selanjutnya adalah kurikulum yang tidak relevan dengan dunia industri. Padahal pelibatan industri sangat penting dalam mendisain kurikulum SMK.

"Oleh karena itu, sepanjang persoalan fundamental SMK tak dibenahi, maka akan masalah terus, apapun nama merek atau jargon program yang akan dipakai, terbukti SMK masih berkontribusi terhadap tingkat pengangguran terbuka yang tertinggi di Indonesia," tutup Satriwan. (*)

 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/maD-LLRlzNs

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore