Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 September 2020 | 19.13 WIB

Pengamat ungkap Banyak Siswa yang Tidak Suka Pelajaran Sejarah

Kemendikbud - Image

Kemendikbud

JawaPos.com - Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji mengungkapkan bahwa banyak peserta didik yang tidak suka pelajaran sejarah. Sebab, mereka menganggap merupakan mata pelajaran tersebut bukan esensial.


"Hari ini saja mata pelajaran itu tidak disukai anak. Di ujian kan juga tidak menjadi hal yang penting dan tidak menjadi nilai kelululusan," jelasnya ketika dihubungi JawaPos.com, Minggu (20/9).


Menurut dia, langkah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang menghapuskan atau membatasi pelajaran sejarah adalah tindakan yang akan menghilangkan identitas bangsa.


"Jadi sejarah yang ada sekarang ini tidak menjadi pelajaran favorit bagi anak-anak tidak menganggap sejarah itu tidak penting. Kalau seperti itu dan dihapuskan, habis sudah budaya citra diri bangsa indonesia itu bukan menjadi hal penting lagi. Bahkan anak-anak sudah lupa," ujar dia.


Maka dari itu, menurutnya, dibandingkan menghapuskan mata pelajaran sejarah Indonesia, lebih baik Kemendikbud memperkuat dan merevitalisasi agar menjadi menarik.


"Revitalisasi harus ada refreshing buku-buku ajar, penguatan kompetensi guru-guru sejarah, kalau dulu kan kesannya kita hidup di mana, dia cerita di zaman kapan, ada gap. Hari ini anak-anak megang gadget, tapi guru-guru sejarah cerita soal hal-hal yang pada zaman dahulu belum ada teknologi, anak-anak imajinasinya ngga sampe kesitu," imbuhnya.


Selain itu, juga perlu adanya peningkatan kompetensi guru, materi sejarah yang menceritakan masa lalu disandingkan dengan apa yang terjadi di keseharian kita. Jadi, anak-anak perlu akan diajarkan untuk lebih belajar kritis.


"Misalnya cerita soal keteladanan tokoh, itu kan relevan, misalnya tokoh dulu pejuang kita yang berintegritas, bersih dan jujur sehingga melakukan perlawanan terhadap penjajah. Cerita-cerita itu relevan, apakah pemimpin bangsa ini apakah sudah berintegritas, para pejabat kita di parlemen, eksekutif dan yudikatif gimana. Sudah amanah atau belum. itu kan refleksi sejarah semua," terang dia.


Ubaid pun menuturkan, sebenarnya pelajaran sejarah itu akan mati ketika hanya bercerita masa lalu, tapi dia akan menjadi hidup ketika dikontekstualisasikan hari ini dan apa yang bisa kita teladani dengan masa lalu.


"Iya supaya sejarah itu hidup, tinggal bagaimana disampaikan dan diteladani, bagaimana itu dijadikan spirit anak-anak muda hari ini," terangnya. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore