Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 30 Juni 2017 | 21.36 WIB

Guru Besar Ramah Itu Berpulang, Opname di RS Tetap Tanda Tangani Tesis

DISEMAYAMKAN: Pelayat memberikan penghormatan terakhir di depan peti jenazah Prof Dyson. - Image

DISEMAYAMKAN: Pelayat memberikan penghormatan terakhir di depan peti jenazah Prof Dyson.


JawaPos.com – Universitas Airlangga (Unair) kehilangan salah seorang guru besarnya. Prof Dr Drs Laurentius Dyson Penjalong MA, guru besar antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair, berpulang pada Rabu (28/6), pukul 22.20. Kamis (29/6) mendiang disemayamkan di rumah duka Adi Jasa ruang VIP A.



Satu per satu pelayat berdatangan. Mereka adalah para kolega di kampus. Mulai mahasiswa hingga para dosen. Di kalangan mahasiswanya, Prof Dyson dikenal sebagai sosok yang menyenangkan. Bahkan, membaur dan tidak segan menyapa para mahasiswa.



Agung Hadi Pranoto, salah seorang mahasiswa antropologi Unair, menyebut bahwa Prof Dyson punya cara mengajar yang asyik. Tidak jarang, ketika mengajar, Prof Dyson bercerita tentang pengalamannya. Baik ketika melakukan penelitian maupun ketika pengabdian kepada masyarakat.



Banyak pula pelajaran berharga yang bisa dipetik para mahasiswa dari pengalaman yang diceritakan Prof Dyson. Mahasiswa semester VIII itu ingat betul ketika dirinya masih duduk di bangku semester pertama. Saat itu, Prof Dyson bercerita tentang pengalamannya ketika berada di laut.



Dalam ceritanya, Prof Dyson sedang berada di tengah laut. Tiba-tiba, mesin perahu yang dinaikinya mati. Bahan bakar juga habis. Orang yang bertugas mengendalikan perahu juga kebingungan ke mana arah kapal. Bahkan, sempat berpikir mistis tentang ratu penguasa Laut Selatan. ”Tapi, Prof Dyson santai. Beliau lalu mengambil kertas di kapal,” katanya.



Kertas itu ditaruh di permukaan air laut. Nah, kertas tersebut lantas bergerak. Gerakannya menuju daratan. Orang-orang di atas perahu pun girang. ”Ilmunya Prof Dyson memang tidak diragukan. Cara berpikirnya juga tidak disangka-sangka,” ujarnya.



Nikolas Dio, putra bungsu Prof Dyson, menerima para pelayat yang datang ke rumah duka. Di mata Nikolas, sang papa merupakan sosok pekerja keras. Tidak mudah merasa lelah. Papanya juga mengajarkan untuk jujur dan tidak boleh berbohong. ”Apa adanya saja, menolong orang. Jangan takut berbuat baik,” katanya.



Laki-laki yang dikukuhkan sebagai guru besar pada 2005 itu meninggal dunia saat dirawat di Graha Amerta RSU dr Soetomo. Sebelum meninggal, Prof Dyson bolak-balik ke rumah sakit. Menurut Niko, sang papa sempat pulang ke rumah. Kondisinya jauh lebih baik. ”Sempat lebih baik, bisa makan, dan sebagainya,” katanya.



Sang papa juga pernah kehilangan kesadaran. ”Dalam arti tidur, dipanggil menoleh. Tapi, pada hari itu diam,” ujarnya. Papanya lalu dinyatakan meninggal. Niko mengungkapkan, sebelumnya papanya dirawat di ICU RS Unair selama 39 hari.



Sang papa dirawat dengan menggunakan ventilator dan dalam kondisi sadar. Dari ICU Unair lalu pindah ke kamar inap dan dirujuk ke Graha Amerta RSU dr Soetomo untuk mendapat pelayanan yang lebih baik. ”Hasilnya membaik. Pulang empat hari, drop sesak napas. Lalu, kembali ke rumah sakit delapan hari,” katanya.



Terhitung sejak Maret, Prof Dyson bolak-balik dirawat di rumah sakit. Awal masuk RS, kata Niko, disebabkan demam berdarah. Tidak tahu mengapa, jantung dan paru-paru sang papa penuh cairan. Akibatnya, seluruh badan papanya membengkak. Sejak saat itu, kondisinya drop. ”Tapi, sempat membaik, sempat keluar kamar, sudah bisa jalan, sudah bisa ke toilet,” terangnya.



Laki-laki yang akan melanjutkan studi di magister manajemen Unair tersebut mengaku tidak ada riwayat penyakit kronis pada papanya. Kalaupun dirawat di rumah sakit, itu pun disebabkan malaria saat kecil. Setelah itu, sang papa tidak pernah kembali ke rumah sakit untuk penyakit kronis.



Tidak ada pesan terakhir dari sang papa. Semua berjalan biasa saja. ”Kalau dijenguk juga biasa, masih ngobrol,” katanya. Bahkan, saat dirawat di rumah sakit, papanya masih sempat menandatangani tesis mahasiswa. ”Karena kasihan kalau tidak tanda tangan, tidak bisa ujian,” jelasnya.



Niko tidak merasakan tanda-tanda ketika sang papa akan berpulang. Hanya, dia sedikit gemetar ketika mengetahui papanya kembali masuk ICU. Prof Dyson meninggal dalam usia 62 tahun 7 bulan. Laki-laki kelahiran Samarinda, 3 November 1954, itu pergi dengan meninggalkan istri, Remanitha Betzie, dan dua anak. Putri sulung Laurensia Yoan Destalinda dan Nikolas.



Saat ini, pihaknya juga menunggu kedatangan keluarga besar Prof Dyson dari Samarinda. Prosesi penghormatan terakhir akan dilaksanakan di FISIP Unair besok (1/7). Selanjutnya, mendiang akan dimakamkan di TPU Keputih, Sukolilo.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore