Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 Maret 2017 | 02.10 WIB

Menengok Geliat Pelajar Kota Delta terhadap Dunia Sinematografi

BAKAT-BAKAT MUDA: Para anggota Smanisda Moviemaking Club (SMC) berkumpul Senin (27/3) setelah syuting atau pengambilan gambar buat karya film mereka. - Image

BAKAT-BAKAT MUDA: Para anggota Smanisda Moviemaking Club (SMC) berkumpul Senin (27/3) setelah syuting atau pengambilan gambar buat karya film mereka.

Tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional. Bagi sebagian pelajar di Sidoarjo, ini hari yang istimewa.



SMANISDA –sebutan SMA Negeri 1 Sidoarjo– memiliki organisasi ekstrakurikuler untuk mewadahi para siswanya yang tertarik terhadap dunia film. Namanya Smanisda Moviemaking Club (SMC). Sesuai namanya, kegiatan mereka berkaitan dengan pembuatan film dan membahas segala seluk-beluk film.


Saat Jawa Pos berkunjung, Ketua SMC Aulia Nabih Rizqullah bersama anggotanya langsung menunjukkan beberapa karya buatan mereka. Semua tersimpan rapi dalam laptop Aulia. Salah satu film berjudul Mimpi. Itu adalah film terbaru yang mereka buat. Baru selesai pada akhir Februari lalu.


Film tersebut bercerita tentang mimpi besar seorang gadis bernama Dinda yang diperankan Francesca Putri. Dinda sangat suka teknologi. Khususnya robot. Sayang, perjalanannya tidak berjalan mulus. Orang tuanya bercerai. Lalu, saat akan mengikuti kompetisi robot internasional, ayah gadis tersebut meninggal. Alhasil, dia batal mengikuti kompetisi.


Di tengah banyaknya masalah, gadis itu tetap tegar. Tetap ulet belajar dan menekuni teknologi robot. Di akhir cerita, gadis tersebut bisa mewujudkan mimpinya belajar robot di universitas terkenal di London. Bahkan, dia mendapatkan beasiswa. ’’Kami selesaikan film itu sekitar sebulan,’’ terang Aulia.


Menurut Aulia, dengan membuat film, dirinya dan rekan-rekannya bisa menyampaikan pesan positif kepada setiap penonton. Misalnya, film Mimpi. Mereka berniat memotivasi penonton. Dengan usaha keras, gigih, dan kesabaran, jalan untuk meraih mimpi pasti terbuka. Masalah yang datang justru menjadi penguat diri. ’’Akan lebih bangga kalau penonton terinspirasi,’’ ujar Aulia.


Untuk membuat film yang bagus, kata Aulia, mereka harus mengerjakannya dengan total. Butuh perencanaan yang terperinci. ’’Dalam dunia pembuatan film itu, sangat banyak pelajaran yang kami ambil,’’ kata Muhammad Wildan Adi, salah seorang sutradara SMC. ’’Bukan terkait teknik pembuatannya saja, tapi mulai kerja sama, manajemen waktu, hingga pembagian tugas,’’ sambungnya.


Dia menjelaskan, ada proses panjang sampai film benar-benar layak ditonton. Dimulai dengan membuat skrip yang bagus. Alur ceritanya harus menarik sekaligus memungkinkan untuk divisualisasikan.


’’Membuat skrip memang harus detail,’’ timpal salah seorang scriptwriter SMC Rino Wahyu. Misalnya, ada penjelasan tentang sudut pandang mana yang harus diambil oleh camera person. Apakah diambil secara medium close-up atau close-up. Juga, bagaimana transisi antara scene yang satu dan scene lain.


’’Scriptwriter itu juga harus membantu memudahkan camera person agar cerita benar-benar bisa hidup,’’ terang siswa kelas X IPA 1 itu. Dengan skrip yang detail, pengambilan gambar menjadi lebih mudah. Bahkan, bisa membantu editor dalam mengedit. Editor tinggal mengikuti skrip.


Di sisi lain, skrip yang bagus juga tidak akan berarti jika properti yang digunakan dalam pembuatan film tidak mendukung. Misalnya, seorang pengemis atau gelandangan tidak mungkin mengenakan pakaian yang mewah dan bagus. ’’Bagian wardrobe dan properti yang menyiapkannya. Mulai bagaimana pakaian mereka hingga butuh make-up apa agar terlihat real,’’ jelas Rino.


Anggaran juga harus dipikirkan. ’’Kami mencari cara biar proses pembuatannya minim bujet,’’ kata Propmaker SMC Ibnu Ghozali. Misalnya, karena harga stabilizer kamera cukup mahal, mereka tidak membelinya. Namun, mereka membuatnya sendiri dari paralon kecil. ’’Jadi harus benar-benar kreatif,’’ ujarnya.


Keseluruhan proses pembuatan film itu ditutup dengan kerja keras editor. Editor yang membuat masing-masing potongan gambar menjadi satu kesatuan yang bisa dinikmati. ’’Menggabungkan tiap scene, memasukkan suara, dan memberikan tambahan warna-warna lainnya,’’ ucap Balqist Aroma Bunga, salah seorang editor.



Untuk semakin mematangkan kemampuan dalam membuat film, mereka rutin berlatih setiap Selasa dan Sabtu sepulang sekolah. Semuanya dilatih, mulai akting, pengambilan gambar, hingga pembahasan film-film terbaru. ’’Semoga di Hari Film Nasional ini semakin banyak film bergenre sains fiksi di Indonesia karena sekarang masih sangat jarang. Kan kebanyakan roman,’’ tandas Balqist. (uzi/c7/pri/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore