Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 20 Februari 2017 | 04.31 WIB

Menjaga Tradisi, KCB Belajar Buat Teh Jepang

PERLAHAN: Tanti Herawati (tengah) menyendok air panas dipandu Cicilia Tantri Suryawati (kanan) disaksikan anggota komunitas cinta berkain Sabtu (18/2) di Laboratorium Sastra Jepang Unitomo. - Image

PERLAHAN: Tanti Herawati (tengah) menyendok air panas dipandu Cicilia Tantri Suryawati (kanan) disaksikan anggota komunitas cinta berkain Sabtu (18/2) di Laboratorium Sastra Jepang Unitomo.

JawaPos.com – Sebelas anggota komunitas cinta berkain (KCB) antusias belajar upacara minum teh Jepang (chanoyu) di Laboratorium Sastra Jepang di Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Sabtu (18/2). Duduk menekuk lutut, satu per satu anggota menjajal tahapan pembuatan teh.


Ennyh Handayani terlihat tegang ketika mengangkat hishaku. Sendok panjang dari bambu tersebut lantas dicelupkan ke panci berisi air panas. Satu sendok air tersebut dituangkan dalam mangkuk dan diisi bubuk teh berwarna hijau.


”Yang cukup sulit waktu mengaduk teh,” tuturnya. Tidak sekadar mengaduk, untuk membuat hasil teh yang sempurna, ternyata ada teknik tersendiri. Yakni, mengaduk dengan menggunakan pola searah dan cepat. Meski terlihat sulit, Ennyh sangat terkesan dengan tradisi minum teh ala Negeri Sakura tersebut. Menurut dia, setiap gerakan dalam chanoyu bernilai estetika tinggi sehingga menarik untuk dipelajari.


Kedatangan KCB untuk berlajar budaya Jepang itu merupakan bentuk apresiasi dan wujud pelestarian budaya. ”Dalam pembelajaran tersebut, kami menemukan benang merah dengan misi KCB. Yakni, sama-sama berjuang menjaga tradisi,” terang perempuan 55 tahun itu.


Pengajar Sastra Jepang Unitomo Cicilia Tantri Suryawati menjelaskan, tradisi chanoyu telah berlangsung lama di Jepang. Tradisi tersebut merupakan upacara menyambut tamu yang sangat dihormati. Tak heran, pembuatan satu gelas teh memakan waktu yang lama. ”Mulai persiapan dan menghidangkan satu gelas teh, bisa dibutuhkan sepuluh menit,” jelasnya.



Selain bernilai estetika tinggi, setiap gerakan chanoyu kaya filosofi. Ada empat nilai utama dalam tradisi yang muncul pada masa samurai Jepang itu. Yakni, harmonisasi dengan alam, sikap hormat, murni, dan ketenangan. (elo/c16/nda/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore