Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 5 Mei 2017 | 22.38 WIB

Paramater Utama Masuk SMA/SMK Nilai Unas atau TPA?

TIDAK MENYONTEK: Peserta unas berbasis kertas dan pensil Kamis (4/5) di SMP Negeri 2 Manyar, Gresik. - Image

TIDAK MENYONTEK: Peserta unas berbasis kertas dan pensil Kamis (4/5) di SMP Negeri 2 Manyar, Gresik.


JawaPos.com – Apakah paramater utama seleksi penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA/SMK? Belum jelas. Meski proses PPDB itu segera dimulai pada Mei ini, Dinas Pendidikan (Dispendik) Jatim belum mengeluarkan petunjuk teknis yang berlaku untuk seluruh Jawa Timur.



Cabang Dispendik Wilayah Gresik menyebutkan, juknis seleksi PPDB SMA/SMK direncanakan keluar pada pekan ini. ”Kami masih menunggu. Mungkin besok (hari ini, Red) sudah disahkan,” kata Kasi Pembelajaran SMA/SMK Rita Riana Kamis (4/5).



Menurut dia, teknis pelaksanaan PPDB SMA/SMK, termasuk wilayah Gresik, sangat bergantung pada juknis dari Dispendik Jatim. Kabupaten/kota akan merujuk pada juknis tersebut.



Ada beragam informasi yang beredar. Ada yang menyebutkan bahwa nilai unas SMP/MTs akan menjadi dasar utama seleksi PPDB. Sebagian kabar mengatakan kemungkinan ada tes potensi akademik (TPA) selain PPDB.



Kabar lain bahkan menyebut dua-duanya mungkin diterapkan. Pertama, lulusan SMP/MTs yang mengikuti ujian nasional berbasis komputer (UNBK) cukup menggunakan nilai unas saat mengikuti seleksi PPDB SMA/SMK. Namun, peserta ujian nasional berbasis kertas dan pensil (UNPK) juga diwajibkan mengikuti TPA.



Sebab, sekolah penyelenggara UNPK jauh lebih banyak daripada UNBK. Hasil UNBK dan UNPK diyakini berbeda dari sisi kejujuran dan integritas.



Manakah yang akan digunakan? ”Informasi itu (nilai unas sebagai parameter kelulusan PPDB, Red) sangat santer,” ujar Rita.



Seleksi PPDB sangat mungkin bergantung pada nilai unas. Termasuk mempertimbangkan prestasi akademik dan nonakademik siswa. ”Karena itu, untuk lebih jelas, tunggu pengesahan juknis dari provinsi. Setelah turun, kami langsung sosialisasi ke lembaga,” imbuhnya.



Pada tahun pelajaran 2016/2017, PPDB SMA sederajat masih dikendalikan Dispendik Gresik. Saat itu seleksi PPDB ditentukan tiga variabel. Yakni, hasil TPA, nilai unas, serta daftar prestasi akademik dan nonakademik. Bobot nilai TPA dominan hingga 60 persen, sedangkan nilai unas 30 persen dan 10 persen prestasi.



Selain soal mekanisme kelulusan, juknis akan mengatur kuota untuk siswa luar kota. Ada informasi bahwa Dispendik Jatim tidak akan membatasi kuota siswa dari luar kota. Sebab, setelah SMA sederajat dialihkelolakan ke Provinsi Jatim, sekolah di Kabupaten Gresik harus siap menerima siswa luar kota.



Saat ini jumlah lulusan SMP/MTs di Gersik, berdasar daftar nominasi tetap (DNT) unas 2017, mencapai 18.901 siswa. Mereka tersebar di 251 lembaga SMP/MTs. Persaingan memperebutkan sekolah negeri pun bakal ketat. Sebab, hanya ada 18 sekolah negeri. Yakni, 12 SMAN, 4 SMKN, dan 2 MAN.



Merujuk PPDB 2016/2017, rata-rata sekolah menampung 200–400 peserta didik baru. Hanya SMKN 1 Cerme yang menerima peserta didik baru sampai 544 siswa.



Rita berharap siswa tidak fokus membidik sekolah negeri. Sebab, banyak sekolah swasta yang berkualitas bagus. Buktinya, lanjut dia, beberapa sekolah swasta bertengger dalam daftar 10 besar sekolah nilai terbaik di Kabupaten Gresik. Di antaranya, SMA NU 1 Gresik, SMA NU 2 Gresik, SMA Muhammadiyah 1 Gresik, SMA Kanjeng Sepuh Sidayu, dan SMA Muhammadiyah 8 Cerme. (mar/c24/roz/sep/JPG)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore