Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 April 2017 | 23.20 WIB

Kisah William Sandy yang Lebih Pilih PhD di Tiongkok Ketimbang di Inggris

FOKUS: William Sandy (kiri) bersama teman-temannya. - Image

FOKUS: William Sandy (kiri) bersama teman-temannya.


JawaPos.com - Bila pada umumnya pelajar Indonesia lebih memilih menuntut ilmu di negara-negara barat, maka beda halnya dengan William Sandy. Laki-laki kelahiran Pontianak, 12 April 1987 tersebut lebih memilih Tiongkok ketimbang Inggris.


Sama-sama dihadapkan pada pilihan beasiswa, William yang kini tercatat sebagai mahasiswa Huazhong University of Science and Technology (HUST) di kota Wuhan, Republik Rakyat Tiongkok dengan konsentrasi studi Higher Education. 


William mantap memilih Tiongkok daripada memilih beasiswa dari salah satu kementrian di Indonesia untuk melanjutkan pendidikannya di Manchester. ’’Ragu? Tentu saja saya pernah merasakannya. Apakah saya tidak akan menyesali pilihan ini, pertanyaan itu pernah muncul,’’ papar William.



Sebelum menimba ilmu di Wuhan, Tiongkok, William pernah menjajal pendidikan di Eropa dan Amerika Serikat. Sebelum memperoleh gelar MA bidang Education di University of Manchester di Inggris, William berkesempatan mengikuti program Foreign Language Teaching Assistant (FLTA) di SAIS Johns Hopkins University di kota Washington DC, Amerika Serikat.



William menceritakan, pernah suatu hari dia merasa gamang akan pilihannya. Lantas dia membuka foto kenangannya saat di Eropa dan Amerika. Semakin dia melihat foto-foto tersebut, semakin dia sadari bahwa dia sudah berada di tingkatan yang jauh berbeda dari sebelumnya.


Dia bukan lagi anak kecil yang lugu yang tinggal di rumah kontrakan kecil, melainkan seorang (mantan) guru Bahasa Inggris yang saat ini sedang menjadi kandidat doktor dari salah satu universitas terbaik di Tiongkok.



Tidak hanya studi, toh selama di Eropa dia juga mendapatkan bonus dari perjalanannya menempuh pendidikan Mulai dari melihat patung Liberty dan menonton pertandingan bolabasket NBA ketika dia berada di Amerika Serikat, menyaksikan pertandingan bulutangkis All-England dan berkesempatan menghadiri klinik musik yang mengundang gitaris favoritnya sebagai bintang tamu di Inggris, serta menonton pertandingan sepakbola langsung dari stadion kesebelasan favoritnya di Italia ketika dia menghabiskan liburannya disana.


’’Saya sudah melangkah sejauh ini, memperoleh begitu banyak pengalaman, ilmu pengetahuan dan gelar akademik. Amerika Serikat sudah, Inggris juga, semua tantangan sudah saya hadapi. Ya, memang benar tantangan kali ini berbeda dan jauh lebih berat dari tantangan sebelumnya,’’ papar William.



Kebudayaan yang berbeda jauh dari sebelumnya, harus belajar bahasa baru yang jauh lebih sulit dari Bahasa Inggris sambil belajar dan mempersiapkan diri untuk melakukan penelitian dan menulis artikel-artikel akademik dan berkontribusi dalam seminar maupun konferensi.


Justru, itulah yang membuat William bangga. Sebab dia akan memiliki pengalaman yang lebih beragam, ilmu pengetahuan dan sudut pandangnya akan jadi jauh lebih luas dibanding jika dia kembali ke Amerika Serikat atau Inggris.


’’Bukankah menguasai salah satu bahasa tersulit di dunia ini akan semakin meningkatkan nilai jual saya secara profesional nantinya? Mengapa harus berkecil hati dengan kegagalanku kembali ke Inggris atau Amerika Serikat? Bukankah sekarang diriku berada di salah satu negara yang saat ini sedang berkembang begitu pesatnya?,’’ ujarnya. (ina/tia)










Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore