
Deden Rukmana bongkar kebohongan Dwi Hartanto.
JawaPos.com - Sebelum pencabutan penghargaan oleh KBRI Deen Haag Belanda untuk Dwi Hartanto dilakukan pada 5 Oktober, isu pembohongan publik oleh Dwi Hartanto lebih dulu dicuatkan oleh Deden Rukmana.
Deden adalah pengajar di Savannah State University, Savannah, Georgia, Amerika Serikat. Dalam status Facebook yang ditulisnya pada Minggu (1/10) tersebut menjelaskan mengenai investigasi mengenai klaim prestasi-prestasi Dwi Hartanto.
Misalnya lewat pengurus Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional. ’’Dokumen pertama terdiri 33 halaman berisikan beragam foto-foto aktivitas Dwi Hartanto termasuk dari halaman Facebook-nya, link ke berbagai website tentang yang bersangkutan, transkrip wawancara yang bersangkutan dengan Mata Najwa pada Oktober 2016 dan korespondensi e-mail dengan beberapa pihak untuk mengklarifikasi aktivitas yang diklaim oleh Dwi Hartanto,” tulis Deden.
”Dokumen kedua sebanyak 8 halaman berisikan ringkasan investigasi terhadap klaim yang dibuat oleh Dwi Hartanto termasuk latar belakang S1, usia, roket militer, PhD in Aerospace, Professorship in Aerospace, Technical Director di bidang rocket technology and aerospace engineering, interview dengan media international, dan kompetisi riset. Kedua dokumen tersebut disiapkan oleh beberapa teman Indonesia di TU Delft yang mengenal Dwi Hartanto secara pribadi. Saya menilai mereka sebagai pihak yang mengetahui kebohongan publik yang dilakukan oleh Dwi Hartanto dan menginginkan agar kebohongan ini dihentikan,” sambungnya.
”Mereka sudah menemui Dwi Hartanto dan memintanya agar meluruskan segala kebohongannya tetapi tidak ditanggapi dengan serius oleh yang bersangkutan. Mereka pun mencari cara-cara lainnya untuk menghentikan kebohongan ini. Salah satunya adalah menghubungi saya dan mereka pun memberikan izin kepada saya untuk menggunakan kedua dokumen dalam menyiapkan tulisan ini,’’ tulis Deden dalam status facebooknya.
’’Kedutaan besar Indonesia di berbagai belahan dunia melalui Atase Pendidikan dan Kebudayaan semestinya membuat data mengenai keberadaan ilmuwan asal Indonesia di negaranya masing-masing. Data ilmuwan tersebut seyogyanya diperbaharui setiap saat. Keberadaan data ilmuwan ini tentunya akan memberikan manfaat banyak bagi banyak pihak termasuk wartawan yang ingin menulis berita tentang ilmuwan Indonesia,’’ tambah Deden dalam tulisannya tersebut. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
