
KARYA ANAK BANGSA: Serka (Mar) Siswadi (dua dari kiri) menunjukkan kemampuan tangan bionik disaksikan Karumkital RS dr Ramelan Laksamana Pertama TNI dr I.D.G. Nalendra (kiri), Dahlan Iskan, dan Rifky Ismail.
JawaPos.com- Tim dari Center for Biomechanics, Biomaterial, Biomechatronic and Signal Processing (CBIOM3S) Universitas Diponegoro (Undip) berhasil membuat tangan bionik. Tangan robot bernama Albondi tersebut pun langsung dicoba Serka (Mar) Siswadi, 46. Kini dua tangan Siswadi sama-sama menggunakan tangan bionik.
’’Penelitian dimulai pada 2015,’’ kata Ketua CBIOM3S Undip Rifky Ismail dalam acara Penyerahan Hand Bionic dari Universitas Diponegoro kepada RSAL dr Ramelan, Surabaya.
Albondi merupakan duplikasi tangan kanan bionik milik Siswadi yang dibeli dari Inggris. Siswadi memasang tangan impor itu di sebelah kanan, sedangkan tangan kirinya dipasangi Albondi. Selama dua tahun tim CBIOM3S Undip terus melakukan penelitian. Mereka mencoba merangkai sendiri komponen-komponen hingga berhasil membentuk tangan bionik yang menyerupai milik Siswadi.
Tentu saja hal tersebut bukan perkara mudah. Awalnya, tim memulai membuat tangan dengan alat peraga. Baru kemudian secara bertahap dikembangkan hingga menjadi seperti sekarang. Beberapa kali percobaan mereka juga sempat gagal. Tetapi, mereka tidak putus asa. Mereka terus mengutak-atik tangan bionik tersebut. ’’Ini adalah versi ketiga. Di dalamnya ada tujuh mode gerakan yang bisa dilakukan,’’ jelas Rifky.
Tujuh mode itu digerakkan dengan menggunakan gerakan otot yang mengandalkan sensor yang dipasang di tangan bionik. Elektromiografi yang sering digunakan untuk mengukur aktivitas otot dan kekuatan otot pun digunakan untuk memicu gerak.
Jika sensor pada otot yang bergerak tidak pas, gerakan pun tidak bisa dilakukan. Jari-jari tangan bionik tidak bisa digerakkan. Tangan tersebut pun akhirnya dipasang, lalu dilepas lagi untuk mencari posisi yang tepat hingga akhirnya bisa berfungsi.
Bahan tangan bionik tersebut terdiri atas dua jenis. Yakni, stainless steel dan polylactic acyd yang berwarna hitam. Pencetakannya menggunakan printer tiga dimensi. Harga tangan bionik buatan Indonesia tersebut tentu jauh lebih murah. ’’Kalau dirupiahkan, ya sekitar Rp 100 juta,’’ ujar Karumkital dr Ramelan Laksamana Pertama TNI dr I.D.G. Nalendra D.I. SpB SpBTKV (K).
Dia berharap Albondi bisa membantu rakyat Indonesia. Rencananya, tangan bionik tersebut segera dipatenkan dan diproduksi secara masal. Sebab, kasus kecacatan pada alat gerak, terutama tangan, cukup banyak.
Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan yang kemarin turut hadir dalam acara tersebut sangat mengapresiasi hasil kerja keras para anak bangsa itu. Menurut dia, generasi muda harus memiliki semangat tinggi untuk mencapai keinginan. ’’Kalau belum tercapai, jangan berhenti,’’ tutur Dahlan.
Dia pun mengingatkan tim CBIOM3S Undip bahwa mereka sekarang tidak lagi berada di lingkungan akademisi, melainkan di dunia nyata yang berbeda. Dunia yang kejam. Jadi, apa pun yang tengah mereka kerjakan sudah tidak bisa lagi mundur. ’’Kegagalan itu wajar. Kalau tidak ada proses gagal, tidak akan ada keberhasilan,’’ imbuhnya.
Sementara itu, Siswadi tampak masih sedikit kaku saat menggunakan tangan bionik kirinya. Jari-jemari tangan bionik tersebut belum bisa bergerak lincah seperti tangan bionik kanannya. Maklum, Siswadi baru pertama mencoba tangan tersebut kemarin pagi. Botol air mineral pun sempat lepas dari genggamannya saat dia mencoba minum dengan tangan bionik kirinya.
’’Tangan bionik yang kanan ini sebenarnya juga jarang saya gunakan. Kebanyakan malah lebih banyak dipakai buat penelitian,’’ ungkap ayah Arya Abdi Rekabari dan Aryani Regina Putri tersebut.
Siswadi pun merasa senang dan terbantu atas adanya tangan bionik. Namun, dia justru berharap tangan bionik karya CBIOM3S Undip segera diproduksi masal. Dengan demikian, orang-orang seperti dirinya yang tangannya tidak lagi sempurna bisa segera terbantu.
Siswadi kehilangan dua tangannya saat menjadi instruktur Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir Angkatan Laut di Purboyo, Malang Selatan, September 2014. Dari 90 siswanya yang melempar granat busung, ada tiga yang tidak meledak. Saat Siswadi melakukan penyisiran dan berusaha menandainya dengan ranting, granat itu meledak.
Dua tangan Siswadi hancur dan harus diamputasi. Untung, dia terlindung baju antigranat dan helm sehingga bagian lain tidak terkena serpihan granat. Kemudian, Maret 2015, Siswadi mendapat tangan bionik pertamanya.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
