Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 April 2018 | 16.45 WIB

Tak Kapok Terjun Di Politik, AHY Belajar Dari Kekalahan Pilkada DKI

AHY saat berdiskusi dengan redaksi Jawa Pos di Graha Pena lantai 4 Surabaya, Senin (2/4) - Image

AHY saat berdiskusi dengan redaksi Jawa Pos di Graha Pena lantai 4 Surabaya, Senin (2/4)

JawaPos.com - Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Kutipan itulah yang kini dipegang oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sejak memutuskan untuk pensiun dini dari militer dan maju pada Pilkada DKI Jakarta tahun lalu, karir AHY di dunia politik semakin matang.


Putra sulung Presiden ke-enam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu menegaskan, bahwa dirinya punya konsep dan gagasan segar. Hal itu menjadi modal utamanya dalam dimamika perpolitikan nasional. "Saya bukan orang yang ingin mendompleng nama keluarga. Ada kekhasan yang saya miliki sendiri. Saya dan Pak SBY hidup di zaman dan era yang berbeda," tegasnya saat mengunjungi kantor Redaksi Jawa Pos di Graha Pena Lantai 4, Surabaya, Senin petang (2/4).


AHY menuturkan, dirinya akan lebih banyak merapat ke generasi milenial. Merekalah yang akan menjadi tumpuan AHY untuk meraih elektabilitas dan aksesbilitas mulai dari sekarang hingga ke depan.


Meskipun demikian, AHY mengaku akan tetap mendengarkan saran dan masukan dari para politisi yang lebih senior darinya. Dia tak segan untuk mengakui, bahwa gap yang ada pada dirinya adalah kurangnya pengalaman di bidang pemerintahan.


AHY mengambil banyak pelajaran dari keikutsertaannya mencalonkan diri pada Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. "Ketika kalah di Pilkada DKI, orang bilang, mati dia (AHY, red). Tapi saya tidak putus asa, saya jadi lebih tekun belajar untuk memahami politik nasional," tuturnya.


Alumnus Akmil tahun 2000 tersebut, mengambil banyak hikmah dari kekalahan tersebut. Meskipun kalah, namanya dikenal publik luas dan menjadi perhitungan di masa yang akan datang. Pilkada DKI bukan akhir dari karir politiknya. "Saya lebih bekerja lebih keras untuk meyakinkan masyarakat," ucap AHY.


Usia muda adalah kekuatan yang dimiliki oleh AHY. Baginya, rekam jejak di pemerintahan memang penting. Namun yang lebih penting lagi adalah pengalaman untuk mencari rekam jejak tersebut.


Baginya, pengalamannya di militer tetap memiliki arti untuk menunjang karirnya di politik. "Walaupun tidak sampai lama, rekam jejak saya di militer tetap berarti. Pengalaman sebagai militer ini sama dengan pengalaman sebagai birokrat," bebernya.


"Saya tidak punya masa lalu, tapi saya punya masa depan. Mereka (pemilih muda) punya harapan, ini yang saya tawarkan," lanjut suami dari Annisa Pohan tersebut.


AHY mengatakan bahwa, dirinya kerap bertemu dengan generasi milenial. Dia juga biasa berdiskusi dengan para pekerja muda hingga pelaku startup. Menurutnya, masa depan Indonesia ada di tangan mereka.


Oleh sebab itu, dia menilai bahwa generasi muda itu harus diberi mindset dan pelatihan sesuai dengan perkembangan abad 21. Dia lantas mencontohkan posisi Indonesia di AFTA (Asean Free Trade Area). Generasi penerus bangsa harus optimis dalam menghadapi perdagangan bebas lingkup regional Asia Tenggara tersebut.


Mereka harus punya ketrampilan untuk bersaing dengan negara-negara lainnya. Mereka tidak boleh takut dengan serbuan pekerja asing. "Konsep ketakutan terhadap pekerja asing itu harus diganti. Semestinya kami tidak takut dengan pekerja asing," ucap pria yang akan genap berusia 40 tahun pada 10 Agustus nanti.

Editor: Budi Warsito
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore