Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 6 September 2025 | 15.06 WIB

Fenomena Fatherless, Mengapa Anak Laki-Laki Lebih Rentan Terjebak Toxic Masculinity?

Ilustrasi fatherless atau orang yang tumbuh tanpa figur ayah (Freepik/storyset)

JawaPos.com – Fenomena fatherless alias kehidupan tanpa sosok ayah sering menjadi sorotan dalam diskusi di era kini.

Dalam konteks Indonesia dan global, ketika peran ayah melemah, itu menciptakan ruang kosong yang sering diisi oleh model maskulinitas beracun alias toxic masculinity.

Artikel ini mengulik bagaimana ketiadaan figur ayah berpotensi mendorong anak laki-laki mengadopsi norma-norma maskulinitas yang merusak.

Fatherless dan Risiko Norma ‘Racun Maskulinitas’

Dalam halaman GQ, terungkap bahwa istilah toxic masculinity mulai digunakan sekitar 40 tahun lalu oleh gerakan Mythopoetic.

Di era 1990-an, sosok ayah yang tidak hadir dikaitkan dengan lonjakan kekerasan karena anak laki-laki mencari panutan maskulin di tempat lain, seperti teman sebaya atau film aksi yang sering berujung pada perilaku agresif dan destruktif.

Sementara itu di situs All Men's Health Today, dijelaskan bahwa ketiadaan figur ayah membuat anak laki-laki rawan mencari identitas melalui stereotip dominan dan penekanan sosial akan maskulinitas keras.

Hal ini meningkatkan risiko adopsi pola perilaku negatif, seperti penyalahgunaan zat hingga kekerasan.

2. Mengapa Anak Laki-laki Rentan?

Pertama, anak laki-laki mengalami kekosongan panutan maskulin sejati.

All Men's Health Today menjelaskan, tanpa ayah atau figur dewasa yang sehat, anak laki-laki cenderung mencari panutan dari media, film, atau influencer manipulatif.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore