Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 15 Juni 2025 | 23.38 WIB

Kebiasaan Digital Anak Bisa Picu Stres dan Perilaku Negatif, Ini Solusinya

Seorang anak duduk diam menatap layar tablet dengan ekspresi kosong, mencerminkan dampak paparan layar berlebihan terhadap kesejahteraan emosional anak (Dok. Canva) - Image

Seorang anak duduk diam menatap layar tablet dengan ekspresi kosong, mencerminkan dampak paparan layar berlebihan terhadap kesejahteraan emosional anak (Dok. Canva)

JawaPos.com – Di era digital seperti sekarang, perangkat seperti ponsel, tablet, hingga konsol gim telah menjadi hal yang melekat terhadap keseharian anak-anak. Namun, apakah kita sebagai orang tua sudah benar-benar memahami dampak dari kebiasaan ini terhadap perkembangan anak?

Dikutip dari laporan terbaru dalam jurnal Psychological Bulletin, anak yang terlalu sering terpapar layar digital seperti televisi, tablet, komputer, dan konsol game ternyata berisiko tinggi mengalami gangguan perilaku, termasuk agresivitas, kecemasan, hingga harga diri yang rendah.

Penelitian berskala internasional ini melibatkan hampir 300.000 anak dan menemukan hubungan dua arah antara durasi waktu layar dengan kondisi sosial-emosional anak. Artinya, bukan hanya penggunaan layar yang menyebabkan masalah, tetapi anak-anak yang sudah memiliki kesulitan emosional pun cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar.

Menurut laporan dari Times of India, penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak di bawah usia dua tahun sebaiknya tidak memiliki waktu layar sama sekali (kecuali video call). Untuk anak usia 2 hingga 5 tahun, batas ideal adalah satu jam per hari. Sementara itu, anak usia sekolah dasar sebaiknya tidak melebihi dua jam per hari. Jika melebihi batas ini, risiko munculnya masalah perilaku dan emosional pun meningkat.

Roberta Pires Vasconcellos, peneliti utama studi tersebut sekaligus dosen di University of New South Wales, Australia, menjelaskan bahwa penggunaan layar yang tinggi sering kali menjadi gejala dari masalah emosional yang telah ada sebelumnya. "Banyak anak yang sedang bergumul secara emosional cenderung melarikan diri lewat layar, terutama game," ujarnya. "Namun, pelarian ini bisa menjadi jebakan yang justru memperparah kondisi mereka."

Senada dengan Vasconcellos, Dr. Michael Noetel dari University of Queensland menambahkan bahwa jenis game yang dimainkan tidak sepenuhnya menjadi faktor dominan. "Baik itu game tembak-tembakan atau yang bersifat edukatif, penggunaan berlebihan tetap memiliki korelasi kuat dengan masalah emosional, terutama dibandingkan dengan aktivitas layar lain seperti menonton televisi atau menggunakan aplikasi edukatif," ujarnya.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa "anak laki-laki cenderung mengalami dampak yang lebih kuat dari penggunaan layar berlebih, meskipun efeknya juga signifikan pada anak perempuan. Masalah seperti hiperaktivitas, depresi, dan kesulitan bersosialisasi lebih sering muncul pada anak yang melampaui batas waktu layar yang disarankan.

Walaupun temuan ini cukup mengkhawatirkan, bukan berarti layar harus dihilangkan sepenuhnya. Studi tersebut menekankan bahwa penggunaan layar secara moderat, khususnya untuk tujuan edukatif, justru bisa memberi manfaat dan membantu anak mengembangkan keterampilan. Kuncinya adalah menghindari ketergantungan layar sebagai satu-satunya pelarian emosional.

Para peneliti juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dengan aktivitas lain yang tidak kalah penting, seperti tidur, olahraga, dan interaksi sosial. “Orangtua sebaiknya menetapkan aturan penggunaan layar secara konsisten, namun dengan pendekatan yang lembut dan tidak otoriter,” tulis laporan tersebut.

Tips Mengelola Waktu Layar Anak:

  1. Tetapkan Aturan yang Jelas:Buat batasan waktu harian atau mingguan, dan tentukan waktu bebas layar seperti saat makan atau menjelang tidur.
  2. Zona Bebas Teknologi:Hindari penggunaan layar di kamar tidur dan ciptakan waktu keluarga tanpa gawai.
  3. Dorong Aktivitas Alternatif:Ajak anak bermain di luar, membaca buku, menggambar, atau melakukan aktivitas bersama keluarga.
  4. Jadi Teladan:Tunjukkan penggunaan gawai yang bijak dari orangtua sendiri. Anak belajar dari contoh.
  5. Manfaatkan Fitur Kontrol Orangtua:Gunakan aplikasi dan fitur pengawasan digital seperti yang disediakan Google untuk membatasi konten dan durasi.

Mengatur waktu layar bukan hanya bagaimana kita mendisiplinkan anak, akan tetapi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental anak dalam jangka panjang. Dengan pendekatan yang seimbang dan penuh pengertian, anak-anak bisa tumbuh lebih tangguh secara emosional tanpa harus bergantung pada dunia digital. 

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore