Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 23 Agustus 2025 | 14.22 WIB

Fatherless Bukan Sekadar Ketiadaan Ayah, Mengapa Bisa Berujung Trust Issue dan Toxic Relationship? Simak!

Ilustrasi sebuah keluarga yang sedang berkumpul di meja makan tanpa gangguan perangkat elektronik, menunjukkan kebersamaan yang hangat./Freepik - Image

Ilustrasi sebuah keluarga yang sedang berkumpul di meja makan tanpa gangguan perangkat elektronik, menunjukkan kebersamaan yang hangat./Freepik

JawaPos.com – Fatherless bukan sekadar ‘ayah tidak ada di rumah’. Ini soal kualitas keterlibatan ayah, baik secara fisik maupun emosional yang membentuk cara anak memandang diri, orang lain, dan hubungan.

Ketika gambaran ini retak, dampaknya bisa menjelma menjadi trust issue dan toxic relationship saat dewasa.

Sejumlah artikel populer psikologi merangkum temuan penelitian dan pengamatan klinis bahwa relasi ayah dengan anak yang buruk berkaitan dengan pola keterikatan tidak aman, kecenderungan takut ditinggalkan, dan pengulangan pola relasi yang tidak sehat.

Fatherless Lebih dari Sekadar Tidak Ada Ayah

Dilansir dari situs Psychology Today, fatherless tidak selalu berarti ayah meninggal atau bercerai. Ada juga ‘ketiadaan emosional’.

Ayah ada secara fisik, tetapi dingin, jauh, ataupun tidak terlibat. Ayah yang secara emosional tidak hadir, misalnya manipulatif atau sering meremehkan dapat membentuk rasa diri anak menjadi rapuh, memengaruhi ambisi, kemandirian, dan terutama rasa percaya pada dunia sekitar.

Singkatnya, kualitas kehadiran ayah ikut mengatur ‘termometer’ kepercayaan anak terhadap orang lain. 

Bagaimana Kepercayaan Terbentuk dari Rumah ke Hati

Situs Parents mengatakan bahwa anak membangun skema tentang apakah orang lain aman dan bisa diandalkan?” melalui pola respons pengasuh terdekat.

Bila kehangatan sulit ditebak, janji sering diingkari, atau kasih sayang datang bersyarat, anak jadi belajar bahwa dunia tidak konsisten.

Saat dewasa, pelajaran tersebut lambat laun menjelma sebagai trust issue. Anak menjadi butuh verifikasi berulang, takut dikhianati, atau justru menutup diri sebelum disakiti.

Ayah yang tidak terlibat atau berkualitas rendah berasosiasi dengan keyakinan relasional yang tidak membantu.

Misalnya, sebagian anak laki-laki bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa komitmen bukan prioritas. Saat dewasa bisa saja mereka menjadi kurang engage dalam menjalin hubungan.

Kabar baiknya, pola ini bukan takdir melainkan pengasuhan suportif dari figur lain seperti ibu, kakek, nenek, paman, bibi, dan lingkungan yang konsisten dapat memperbaiki cara anak belajar menjalin kedekatan yang sehat.

Trust Issue dan Toxic Relationship Jadi Rantai yang Sering Tak Terlihat

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore