Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 18 Juni 2025 | 01.23 WIB

8 Sifat Anak yang Tumbuh dari Keluarga Broken Home Menurut Psikologi

Sifat anak yang tumbuh dari keluarga broken home menurut psikologi. (Freepik/ freepik) - Image

Sifat anak yang tumbuh dari keluarga broken home menurut psikologi. (Freepik/ freepik)

JawaPos.com – Tumbuh dalam keluarga broken home bukanlah akhir dari segalanya, tapi seringkali meninggalkan jejak psikologis yang khas pada seorang anak.

Psikologi mencatat bahwa pengalaman emosional dari dinamika keluarga yang tidak utuh dapat membentuk sifat, cara berpikir, dan respons anak terhadap lingkungan sekitarnya.

Tak sedikit anak broken home menunjukkan sikap tertentu sebagai bentuk adaptasi atas situasi yang mereka alami sejak kecil.

Sifat ini bisa bersifat positif sebagai bentuk daya tahan, namun juga bisa menjadi tanda bahwa ada luka emosional yang masih perlu dipahami dan disembuhkan.

Dilansir dari geediting.com pada Selasa (17/6), diterangkan bahwa ada delapan sifat anak yang tumbuh dari keluarga broken home menurut psikologi.

1. Kesadaran tinggi terhadap konflik

Mereka yang tumbuh dalam rumah dengan orang tua terpisah seringkali memiliki kepekaan lebih tinggi terhadap ketegangan dalam interaksi sosial.

Kemampuan mendeteksi perubahan suasana hati atau tensi dalam sebuah ruangan menjadi semacam radar yang terbentuk dari pengalaman menghadapi situasi emosional yang berubah-ubah.

Kepekaan ini memungkinkan mereka menangkap isyarat halus seperti perubahan postur tubuh, nada suara, atau jawaban singkat yang mengindikasikan masalah.

Sensitivitas yang dulu mungkin terasa melelahkan kini dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk memahami orang lain secara lebih mendalam.

Praktik mindfulness seperti meditasi singkat lima menit sehari dapat membantu mengubah kewaspadaan yang berlebihan menjadi kesadaran yang lebih seimbang.

 Penelitian dari Mindful.org menunjukkan bahwa meditasi rutin dapat mengurangi stres dengan mengajarkan cara mengamati emosi tanpa terburu-buru mengambil kesimpulan.

2. Kemandirian yang kadang berlebihan

Orang-orang yang dibesarkan dalam keluarga terpisah sering belajar mengandalkan diri sendiri sejak usia dini.

Kemandirian ini muncul dari kebutuhan praktis saat harus mengurus berbagai hal sendiri, dari menyiapkan makan siang hingga menyelesaikan tugas sekolah tanpa pendampingan.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore