Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 April 2025 | 23.20 WIB

7 Tanda Tersembunyi Seorang Wanita Bisa jadi Ibu yang Kurang Baik, Menurut Psikologi

Ilustrasi ibu yang lalai. - Image

Ilustrasi ibu yang lalai.

JawaPos.com - Menjadi orang tua bukan perkara mudah. Kadang sulit membedakan antara naluri dan penilaian dalam mendidik anak. Kita mungkin pernah diam-diam bertanya-tanya soal kemampuan mengasuh seseorang, tapi pada dasarnya, tak ada orang tua yang sempurna.

Semua orang bisa melakukan kesalahan. Namun, psikologi mengungkap beberapa sinyal halus yang patut diwaspadai sebagai tanda potensi kelalaian seorang ibu.

Artikel yang dikutip dari News Reports, Jumat (18/4) ini bukan untuk menghakimi, tapi sebagai ajakan memahami. Tujuannya adalah memberikan sudut pandang baru dan, jika perlu, dorongan untuk memberikan dukungan.

Berikut ini tujuh tanda tersembunyi yang bisa menjadi sinyal bahaya bahwa seseorang berpotensi menjadi ibu yang kurang baik untuk anak.

1. Tidak Punya Empati

Empati adalah fondasi penting dalam pengasuhan. Ketika seorang ibu bisa memahami dan merasakan apa yang dirasakan anaknya, ia akan lebih mampu memberikan respon yang hangat dan penuh cinta. Tapi jika empati itu tidak ada, besar kemungkinan anak tidak akan mendapatkan perhatian emosional yang dibutuhkan.

Seseorang yang kesulitan merasakan apa yang dialami anaknya bisa jadi tidak menyadari bahwa kebutuhannya diabaikan. Ketidaksengajaan ini, jika berulang, bisa berdampak jangka panjang. Meski setiap orang bisa mengalami hari di mana empatinya menurun, jika ini menjadi pola terus-menerus, maka patut jadi perhatian.

2. Terlalu Mementingkan Diri Sendiri

Semua orang butuh ruang untuk dirinya sendiri, tapi jika seorang ibu terlalu fokus pada diri sendiri, anak bisa terlantar secara emosional. Misalnya, ketika ibu lebih sibuk dengan urusan pribadinya dibandingkan dengan kebahagiaan atau kenyamanan anak.

Bukan berarti ibu tidak boleh memikirkan kebahagiaannya. Aktualisasi diri itu penting. Namun, jika itu menjadi alasan untuk terus-menerus menomorduakan anak, maka bisa jadi tanda bahwa pengasuhan sedang tidak seimbang.

Ketika kebutuhan anak diabaikan karena urusan pribadi terus diutamakan, di situlah muncul potensi kelalaian.

3. Perilaku yang Tidak Konsisten

Anak-anak butuh stabilitas. Mereka perlu tahu apa yang bisa mereka harapkan dari orang tuanya. Jika seorang ibu bersikap tidak menentu—hari ini lembut, besok marah-marah tanpa alasan—anak bisa bingung dan merasa tidak aman.

Ketidakkonsistenan dalam pengasuhan bisa mengganggu perkembangan emosional anak. Anak jadi sulit mempercayai orang lain dan merasa tidak punya pegangan.

Tentu, semua orang bisa punya hari buruk, tapi kalau sikap tidak stabil ini jadi kebiasaan, perlu ada evaluasi lebih dalam.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore