Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Agustus 2026 | 22.57 WIB

Viral Aa Juju dengan Ioniq 5, Kenapa Mobil Listrik Disebut Tak Cocok Parkir Paralel?

IONIQ 5 menjadi kendaraan listrik andalan Hyundai di Indonesia. (Nanda Prayoga/JawaPos.com) - Image

IONIQ 5 menjadi kendaraan listrik andalan Hyundai di Indonesia. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

 
JawaPos.com - Saat ini parkir paralel pada mobil listrik tengah menjadi perbincangan hangat masyarakat para pecinta otomotif. Banyak pihak yang bertanya-tanya, apakah mobil listrik benar-benar tidak mendukung parkir paralel.
 
Terlebih dengan viralnya Hyundai Ioniq 5 yang disebut-sebut tak disarankan parkir dalam keadaan paralel. Hal ini populer lantaran diunggah oleh akun Instagram food vlogger, Aa Juju pada akun Instagramnya.
 
Melihat hal ini, pengamat otomotif, Yannes Martinus Pasaribu, menegaskan, bahwa mobil listrik masa kini memang tidak dirancang untuk parkir paralel. Menurutnya, hal ini termasuk pada sebuah simplifikasi dari benturan antara standar keselamatan global yang secara otomatis mengaktifkan rem parkir elektronik demi mencegah mobil meluncur bebas.
 
 
“Umumnya produsen BEV mengikuti arsitektur keselamatan standar global yang dibuat Barat seperti ISO 26262 yang secara otomatis mengunci transmisi ke posisi Park dan mengaktifkan Electronic Parking Brake untuk mencegah mobil menggelinding bebas, dan ini bertabrakan dengan budaya lokal Indonesia yang sering mengharuskan mobil parkir bisa didorong secara manual oleh juru parkir,” kata Yannes saat dihubungi JawaPos.com, Jumat (21/8).
 
Tak hanya di situ, Yannes menyoroti tak banyak sales BEV yang benar-benar memahami detail operasional keseharian dari produk yang dipasarkannya. Dia menegaskan, hal ini seringkali berujung pada kekecewaan konsumen.
 
Di samping itu, dia menjelaskan bahwa kekuatan utama BEV justru terletak pada proteksi keselamatan absolut melalui Electronic Parking Brake otomatis yang memastikan mobil tidak meluncur saat tidak sengaja ditinggalkan, serta keunggulan manuver yang sangat superior untuk parkir paralel normal berkat torsi instan, sensor presisi, dan fitur Auto-Parking Assist.
 
“Kelemahannya muncul ketika sistem harus diakali agar tetap berada di posisi Netral, karena sering kali memaksa mobil tertahan di mode Aksesori yang menguras aki 12 volt secara drastis, dan risiko vampire drain menjadi ekstrem saat mobil didorong karena sensor akselerometer serta telematika akan terbangun dan menyedot daya hingga berpotensi merusak konverter daya utama jika aki mati total,” ungkapnya.
 
Saat ini, dia mengungkapkan bahwa beberapa pabrikan memang merilis pembaruan Over-the-Air untuk menambahkan prosedur towing khusus yang mengizinkan mobil netral dalam kondisi deep sleep, sekaligus memberikan ruang bagi diler untuk mengedukasi konsumen secara transparan mengenai batas aman penggunaannya. Meski begitu, ancaman mengenai viralitas tetap ada.
 
“Ancamannya tetap nyata berupa viralitas kasus kelistrikan yang mati total akibat parkir paralel semalaman seperti yang pernah menimpa beberapa unit Hyundai Ioniq 5, yang dapat menghancurkan kepercayaan konsumen, ditambah risiko penolakan garansi jika pabrikan mengategorikan pemaksaan mode aksesori sebagai salah penggunaan,” jelasnya.
 
Sementara itu, Yannes juga menyoroti karakteristik masing-masing pabrikan terkait tingkat keamanan dan kemudahan parkir paralel. Brand asal Tiongkok seperti BYD misalnya, yang mengandalkan pendekatan digital dengan menyediakan Towing atau Trailer Mode melalui layar antarmuka yang secara elektronik menonaktifkan Electronic Parking Brake dan membiarkan mobil masuk ke mode deep sleep.
 
Alhasil, kondisi relatif paling aman karena tidak menguras aki 12 volt meskipun didorong dan ditinggal lebih lama. “Meski merek seperti Wuling masih mengandalkan kombinasi tombol fisik yang lebih berisiko,” jelasnya.
 
 
Sebaliknya, merek Korea Selatan seperti Hyundai dan Kia, dijelaskannya, masih menerapkan keselamatan yang sangat kaku tanpa mode digital khusus, sehingga memaksa pengguna melakukan bypass fisik yang rumit dengan sinkronisasi tombol dan transmisi. Menurutnya, cara ini sangat tidak aman untuk ditinggal semalaman karena sistem sering tertahan di mode aksesori dan pasti menguras aki. 
 
Sementara itu, brand Jepang yang masih sangat konservatif dan banyak mengandalkan teknologi hybrid menyediakan tombol mekanis shift-lock release pada model hybrid. Namun pada lini BEV murni sistemnya dikunci ketat menyerupai gaya Korea demi mematuhi standar keselamatan.
 
Terakhir, merek Eropa dan Amerika Serikat merancang mobil murni untuk infrastruktur Barat yang teratur tanpa mengenal konsep parkir dobel didorong, sehingga hanya menyediakan Car Wash Mode yang memiliki batas waktu dan akan otomatis kembali terkunci jika pengemudi keluar serta mengunci pintu dari luar. Hal ini menjadikannya tidak cocok untuk budaya parkir khas paralel ala Indonesia.
 
“Walaupun demikian, cara untuk memarkir paralel secara relatif aman tetap ada di hampir setiap BEV, asalkan prosedur yang benar diikuti dan durasinya disesuaikan dengan karakter mereknya,” tukas dia.
Editor: Bintang Pradewo
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore