
Kendaraan Hino aman pakai B20 karena menggunakan komponen water separator .
JawaPos.com – Pemerintah sejak 1 September 2018 menggulirkan kebijakan penggunaan bahan bakar Biosolar B20 untuk kendaraan bermesin diesel. Ini berarti truk angkutan barang terdampak kebijakan itu.
Terkait kebijakan ini PT Hino Motor Sales Indonesia (HMSI) siap menjalankannya. Bahkan sejak tahun 2016 unit truk medium dan bus Hino bermesin commonrail siap dengan kebijakan ini dengan adanya water separator (sedimentor) pada semua unit kendaraan Hino.
Dengan demikian kandungan minyak nabati yang cenderung menghasilkan air dapat dibuang ke komponen ini sehingga tidak mengganggu pembakaran. Namun pengguna truk harus disiplin mengganti filter bahan bakar.
“Minyak Biosolar dari sawit bisa kita umpamakan seperti minyak goreng dia terpengaruh temperatur. Biasanya kalau tutupnya gak benar terjadi mengendapan. Biasanya ngejel jadi itu yang bisa menyumbat filter minyak sehingga mobil brebet. Tapi kalau diganti filternya langsung ngacir lagi,” kataIrwan Supriyono, Senior Executive Officer After Sales HMSI pada wartawan saat peresmian diler baru Hino di Clincing, Jakarta Utara, Senin (24/8.2018).
Untuk itu pergantian filter minyak yang biasanya dilakukan hingga 20 ribu Km, usianya lebih pendek dengan pergantian diangka 10 ribu Km. Pemilik truk dan bus Hino juga direkomendasikan melakukan pembersihan tangki bahan bakar setiap 3 bulan sekali.
Penggunaan Biosolar sendiri, lanjut Supriyono sendiri tidak akan terkendala dengan komponen pendukung yang telah diuji coba oleh Hino. Selain itu, tiga lapisan filter yang digunakan pada kendaraan Hino menjamin bahwa kandungan air pada B20 tidak akan sampai pada injektor.
“Kalau injektor aman karena kita punya tiga lapisan filter. Jadi tidak mungkin endapan minyak sampai pada injektor. Kita sudah uji coba dengan pembongkaran semua mesin dan endapan hanya sampai pada filter pertama,” terangnya.
Terkait kualitas B20 bila dibandingkan dengan solar, ia menyebutkan sebenarnya B20 secara langsung mengurangi tingkat sulfur yang ada dalam solar kira-kira 2 ribu ppm. Dengan menggunakan minyak nabati 20 persen tentu akan mengurangi 20 persen kandungan sulfur jadi lebih baik untuk mobil dan lingkungan.
“Kandungan sulfur di solar kita kan tinggi banget di 2000 ppm. Sekarang kita hilangkan 20 persen, otomatis kandungan sulfurnya lebih rendah. CPO gak ada sulfur kan, jadi kadar CO nya lebih bagus dan lebih bersih,” tukasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
