Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 2 Februari 2018 | 21.08 WIB

Anatomi & Evolusi Teknologinya

Shockbreaker double tube gas atau DTG - Image

Shockbreaker double tube gas atau DTG

JawaPos.com - Kinerja shockbreaker jadul  mengandalkan  per dan as di dalam tabung berisi oli.  Shockbreaker model kuno seperti itu belum dilengkapi alat penyetel. Kemudian berkembang menjadi model yang dilengkapi dengan peranti penyetel keras atau lunaknya proses peredaman guncangan. Meskipun demikian, perangat penyetel itu diaplikasikan masih sebatas di bagian per.


Perkembangan shockbreaker terus bergulir. Aplikasi teknologi perangkat penyetelan rebound kemudian merebak. Banyak diproduksi shock yang proses baliknya shock (rebound) bisa diatur kecepatannya. Setelan rebound tersebut diatur dengan cara memutar ke arah kiri atau ke arah.  Generasi berikutnya, lahir model shock rebound yang dilengkapi dengan tabung sebagai penyempurna redaman balik.


Oli berfungsi mengembalikan per suspensi yang memantul ketika meredam guncangan. Saat sepeda motor melintas di atas jalan berlubang. Performa shockbreaker berkurang seiring dengan bertambah usia pakainya. Senyawa-senyawa yang dikandung dalam oli memisah, kemudian menjadi buih.


Perpaduan Per, Oli & Gas


Seiring dengan perkembangan waktu, shockbreaker pun mengalami evolusi dan perkembangan pula. Tak hanya mengaplikasikan oli sebagai sistem peredam kejutnya. Namun juga menerapkan kombinasi gas dan oli. Bahkan shockbreaker berteknologi  yang lebih modern telah menggunakan gas sepenuhnya.


Inovasi ersebut lahir sebagai solusi fenomena munculnya gas buih) dari senyawa oli. Shockbreaker kemudian dilengkapi tabung kecil berisi gas di dalamnya.  Tabung berisi gas itu berfungsi untuk mempertahankan tekananan oli agar selalu tinggi, serta mencegah supaya oli tidak berubah menjadi gelembung-gelembung gas.


Shockbreaker yang mengaplikasikan oli dan gas untuk meredam getaran dibedakan menjadi dua. Yaitu Shockbreaker hybrid dan shockbreaker gas tabung terpisah. Shockbreaker hybrid lebih duluan muncul daripada model tabung terpisah. Shockbreaker hybrid mengaplikasikan campuran oli dan gas di dalam satu tabung. Sehingga, kinerja yang dihasilkan memiliki dua efek kerja. Teknologi oli dan gas ini membuat shockbreaker menjadi lebih empuk ketika berada di titik mati terendah.


Lantas bagaimanan dengan proporsi antara gas dan oli? Menurut Benny Rachmawan selaku kepala R&D PT. Mitra Lestarindo, pemegang merek YYS,  tiap shockbreaker memiliki komposisi berlainan. Yang pasti, oli diisikan terlebih dulu ke dalam shock. “Gas yang digunakan adalah Nitrogen. Gas ini bersifat stabil. Sifat kimia dan fisiknya tak mudah berubah karena perubahan suhu,” paparnya.


Dari shockbreaker hibryd mari kita beralih ke shockbreaker tabung terpisah. Shock ini juga disebut sebagai shock breaker double action. Oli dan gas berada dalam wadah terpisah. Sehingga menimbulkan 2 cara kerja yang berbeda di dua tempat. Gas Nitrogen ditampung dalam sebuah balon karet yang berada di dalam tabung terpisah. Balon Nitrogen itu bernama bladder.


Bladder berfungsi membuat  proses rebound menjadi sempurna. Sehingga dapat melindungi Anda dari guncangan.  Selain itu, Balon karet tersebut mampu meminimalkan terjadinya gesekan. Sehingga performa shockbreaker menjadi lebih tahan banting dalam kurun waktu yang lebih lama. Karakter bladder yang elastis memberikan tingkat kinerja semakin tinggi.Sebelum bladder diciptakan banyak produsen menggunakan piston yang bekerja untuk memompa dan memberikan tekanan dalam tabung. Namun ternyata piston mengandung kelemahan. Piston punya daya fisik berlebihan. Akibanya dapat membuat tabung menjadi gampang panas.


Lantas bagaimana mekanisme kerja shock tersebut? Begini Bro, ketika main shaft atau shock mendapatkan tekanan, oli akan bergerak. Mengalir melalui jalur kecil menuju tabung tambahan, kemudian menekan bladder. Berikutnya, bladder akan mengembalikan tekanan tersebut menuju ke tabung utama.


Double Tube Gas Menjadi Penyempurna


Di dunia balap sepeda motor, shockbreaker memberikan sumbangan sekitar 60-70 % terhadap performa sepeda motor. Persentase lain ditentukan oleh mesin. Shockbreaker double tube gas atau DTG menjadi model penyempurnaan dari shockbreaker model hybrid.  Teknologi double tube gas, kombinasi antara special hydrolic oil dan gas nitrogen dalam double tube diklaim mampu bekerja secara sinergis. Menghasilkan kualitas peredaman lebih sempurna. Shockbreaker ini juga memiliki performa handling sepeda motor yang lebih mumpuni bila dibandingkan dengan model shockbreaker sebelumnya.  Kelebihan lain yang diberikan yaitu lebih lembut dan lebih awet. Shock ini tidak mudah bocor seperti shock lainnya.


Shockbreaker DTG saat ini banyak diaplikasikan untuk bagian belakang sepeda motor. Tak jarang skuter yang mengaplikasikan shockbreaker tersebut. Terutama diaplikasikan untuk skuter matik berukuran besar. Misalnya Yamaha NMax, dan Aerox.  Shockbreaker ini memiliki kinerja peredaman yang lebih mulus bila dibandinkan dengan shockbreaker biasa. Lebih kuat dan juga lebih awet.

Editor: Teguh Jiwa Brata
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore