Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 September 2025 | 21.51 WIB

Ngeri-ngeri Sedap, Gelombang Demonstrasi Bisa Perburuk Lesunya Pasar Mobil di Indonesia

Sejumlah mahasiswa melakukan orasi di depan Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (29/8/2025). Aksi tersebut dilakukan buntut meninggalnya pengemudi ojol Affan Kurniawan usai dilindas mobil rantis Brimob pada Aksi 28 Agustus 2025. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com-Aksi demonstrasi yang marak terjadi di berbagai daerah dalam beberapa pekan terakhir dinilai berpotensi memberi tekanan tambahan bagi industri otomotif nasional. Di tengah situasi politik yang belum stabil dan daya beli masyarakat yang menurun, pelaku usaha khawatir pasar mobil semakin terpuruk.

Data terbaru Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat,
sepanjang Januari hingga Agustus 2025, total penjualan mobil wholesales hanya sebanyak 500.951 unit saja.

Angka tersebut turun 10,6 persen Year on Year (YoY) dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebanyak 560.552 unit

Dari sisi ritel, penjualan mobil secara ritel pun ikut menyusut 10,7 persen menjadi 522.162 unit, dibandingkan pada periode 8 bulan 2024 yang sebanyak 584.847 unit pada delapan bulan pertama 2024.

Terkait hal tersebut, Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menegaskan bahwa industri otomotif sangat bergantung pada iklim ekonomi dan politik yang stabil.

Menurutnya, aksi unjuk rasa yang kerap terjadi di sejumlah kota menimbulkan ketidakpastian baru bagi konsumen maupun produsen. “Kami berharap kondisi segera kondusif agar pasar kembali pulih. Kalau situasi berlarut, target penjualan bisa meleset jauh,” ujar dia dihubungi JawaPos.com.

Gaikindo sendiri masih menahan target penjualan mobil sebanyak 900 ribu unit hingga akhir 2025, meski realisasi tujuh bulan pertama menunjukkan tren melemah.

Target itu sebelumnya dipatok dengan merujuk pada capaian 2024 yang menembus 865 ribu unit secara wholesales. Namun, dengan dinamika politik dan ekonomi yang tidak menentu, target tersebut kini dinilai semakin sulit dicapai.

Tekanan terhadap pasar otomotif ini menjadi cerminan rapuhnya sektor konsumsi di tengah gejolak politik. Jika gelombang demonstrasi terus berlangsung tanpa solusi, bukan hanya mobil yang terimbas, melainkan juga rantai pasok, tenaga kerja, hingga kontribusi sektor otomotif terhadap perekonomian nasional.

Sebagai informasi, gelombang demonstrasi di Indonesia tampaknya masih belum akan berhenti. Sebab, beberapa tuntutan yang dikemas dalam '17+8' tuntutan rakyat masih belum digubris oleh pemerintah dalam hal ini DPR.

Belum lagi efek dari reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto pada Senin (8/9) kemarin. Sejumlah kursi menteri diganti, termasuk jabatan paling krusial yakni Menteri Keuangan.

Menteri Keuangan sebelumnya, Sri Mulyani digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa. Gebrakan di sektor ekonomi yang saat ini masih dinantikan di tengah melemahnya daya beli jelas akan berpengaruh pada banyak sektor. Termasuk otomotif. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore