ILUSTRASY Keyboard pada laptop. (Pixabay)
JawaPos.com - Susunan QWERTY menjadi tata letak tombol pada keyboard yang paling umum digunakan di seluruh dunia. Nama "QWERTY" berasal dari enam huruf pertama pada baris atas tombol alfabet di keyboard.
Meskipun keyboard QWERTY tetap menjadi standar global, ada beberapa kritik terhadap tata letak ini. Salah satu kritik utama adalah efisiensi mengetik yang dianggap kurang optimal.
Beberapa peneliti menyebut bahwa tata letak keyboard QWERTY tidak dirancang untuk memaksimalkan kenyamanan dan kecepatan mengetik, melainkan untuk mengatasi keterbatasan teknologi mesin tik pada masanya.
Oleh karena itu, muncul tata letak alternatif seperti “Dvorak Simplified Keyboard dan Colemak”, yang diklaim lebih ergonomis dan efisien.
Namun, transisi dari QWERTY ke tata letak lain tidak mudah karena banyak orang sudah terbiasa dengan QWERTY, dan hampir semua perangkat elektronik modern menggunakan tata letak ini.
Selain itu, pelatihan mengetik, perangkat lunak, dan buku panduan sebagian besar dirancang berdasarkan QWERTY, sehingga mengubah standar akan memerlukan biaya dan waktu yang besar.
Susunan keyboard QWERTY dirancang untuk mengatasi keterbatasan mesin tik mekanis pada abad ke-19. Berikut penjelasannya.
Sejarah Awal QWERTY
Dikutip dari laman Microsoft, Susunan QWERTY diciptakan oleh Christopher Latham Sholes pada tahun 1870-an, saat ia mengembangkan mesin tik pertama yang diproduksi secara massal. Pada mesin tik awal, jika dua tombol yang berdekatan ditekan secara cepat dan bersamaan, batang hurufnya sering macet.
Untuk mengatasi ini, Sholes menyusun huruf-huruf yang sering digunakan secara bersamaan agar berjauhan di keyboard, sehingga mengurangi kemungkinan macet.
Optimasi untuk Bahasa Inggris
Huruf yang sering digunakan dalam bahasa Inggris, seperti "E," "T," "A," dan "O," ditempatkan di lokasi yang agak tersebar untuk menghindari macet pada mesin tik. Susunan ini bertujuan untuk memperlambat sedikit kecepatan mengetik, sehingga memungkinkan mekanisme mesin tik bekerja lebih lancar.
Penerimaan dan Standarisasi
Meskipun saat ini tidak ada lagi masalah macet pada keyboard modern, susunan QWERTY tetap dipertahankan karena sudah digunakan secara luas dan banyak orang terbiasa dengannya. Akhirnya, QWERTY menjadi standar internasional, meskipun ada alternatif lain seperti Dvorak dan Colemak yang dirancang untuk efisiensi mengetik yang lebih tinggi. Dengan kata lain, susunan QWERTY adalah kompromi antara efisiensi dan kebutuhan teknis pada zamannya, yang kemudian menjadi standar global hingga sekarang.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
