JawaPos.com - Selama hampir tiga pekan ini, kalau membuka media sosial ataupun platform pemberitaan dan media di televisi, topik seputar hacker, ransomware, Pusat Data Nasional Sementara atau PDNS yang bobol dan dicuri datanya selalu ada saja yang dibahas.
Kasus ini juga berkembang terus, dimulai dari sistem imigrasi di Bandara dan Pelabuhan yang terganggu sampai kemudian diketahui bahwa ini merupakan akibat dari serangan ransomware Lock Bit 3.0 oleh kelompok Brain Cipher. Buntutnya lagi pada Kamis (4/7) siang, Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika (Aptika) Kominfo mengumumkan mundur gara-gara serangan ransomware Brain Cipher.
Lalu apa dan siapa itu Brain Cipher yang berhasil meretas data PDNS dan bikin gaduh negara ini?
Dilansir dari Bleeping Computer, Brain Cipher adalah operasi ransomware baru yang diluncurkan awal bulan ini, melakukan serangan terhadap organisasi di seluruh dunia. Walaupun kawanan ransomware tersebut awalnya diluncurkan tanpa situs kebocoran data, catatan tebusan terbaru mereka kini tertaut ke situs kebocoran data, yang mengindikasikan bahwa data masih diserang dan akan digunakan dalam skema pemerasan (ransom) ganda.
Seperti operasi ransomware lainnya, Brain Cipher akan membobol jaringan perusahaan dan menyebar secara lateral ke perangkat lain. Setelah pelaku ancaman memperoleh kredensial admin domain Windows, mereka menyebarkan ransomware ke seluruh jaringan.
Akan tetapi, sebelum mengenkripsi berkas, pelaku ancaman akan mencuri data perusahaan untuk dimanfaatkan dalam upaya pemerasan mereka, dengan memperingatkan korban bahwa data tersebut akan dirilis ke publik jika uang tebusan tidak dibayarkan.
Brain Cipher tidak berbeda dan baru-baru ini meluncurkan situs kebocoran data baru yang saat ini tidak mencantumkan korban apa pun.
Sementara menurut Peris.ai, Brain Cipher ransomware merupakan pelaku ancaman baru yang saat ini berfokus pada target organisasi. Brain Cipher ransomware dikirimkan terutama melalui kampanye phishing. Kampanye ini sering kali menggunakan email yang menipu untuk mengelabui penerima agar mengunduh dan mengeksekusi file yang ternyata berbahaya.
Brain Cipher ransomware menggunakan teknik canggih untuk menyusup, menyebarkan, dan mengenkripsi data dalam jaringan yang ditargetkan. Metode pengiriman utamanya adalah melalui email phishing, yang sering kali berisi lampiran atau tautan berbahaya yang mengarah ke unduhan malware.
Begitu masuk ke dalam jaringan, ransomware menggunakan berbagai taktik untuk meningkatkan hak istimewa, menghindari pertahanan, dan memperoleh akses ke informasi sensitif hingga pencurian data korban.
Taktik penemuan ransomware ini mencakup menanyakan registri, menemukan informasi sistem, dan penemuan perangkat lunak. Tindakan ini memungkinkan ransomware memetakan lingkungan yang terinfeksi dan mengidentifikasi target enkripsi bernilai tinggi.