JawaPos.com - Topik terkait Pusat Data Nasional atau PDN yang diserang ransomware Braincipher Lockbit 3.0 masih ramai dibahas hingga hari ini. Tepat sepekan lalu, layanan keimigrasian terganggu dan mengungkapkan fakta bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh Pusat Data Nasional yang bermasalah, belakangan diketahui bahwa masalah tersebut akibat serangan ransomware.
Pemerintah juga memberikan update terkini mengenai PDN yang diserang ransomware itu. Mulai data yang tidak bisa direcovery atau dipulihkan hingga belakangan ketahuan bahwa Pusat Data Nasional hanya menggunakan perlindungan bawaan Microsoft untuk komputer Windows yakni Windows Defender.
Hal tersebut membuat masyarakat keheranan, terutama di media sosial yang ramai membahas masalah ini. Menyebut bahwa perlindungan sekelas Pusat Data Nasional hanya menggunakan Windows Defender, mirip dengan komputer yang biasa dipakai pegawai kecamatan.
Keheranan tersebut juga disampaikan oleh praktisi keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya. Dirinya juga mengaku heran, kok bisa, sekelas Pusat Data Nasional, hanya menggunakan perlindungan sekelas Windows Defender.
"Karena performa Windows Defender itu kan basic. Masa sekelas PDN nggak mampu pakai antivirus selain Windows Defender?" kata Alfons dihubungi JawaPos.com, Kamis (27/6).
Keheranan Alfons sebagai orang yang biasa bergelut dengan proteksi dan keamanan siber makin jadi lantaran Windows Defender yang digunakan untuk melindungi Pusat Data Nasional digunakan tanpa lapisan tambahan. Padahal menurutnya, sekelas Pusat Data Nasional, selevel negara, ada proteksi lainnya yang lebih advance.
"Masa iya tidak ada proteksi tambahan lain seperti firewall atau Cisco pix gitu," lanjut Alfons.
Yang disayangkan Alodns adalah, menurutnya performa Windows Defender terbatas dan mendasar. Semestinya untuk penggunaan sekelas PDN menggunakan perlindungan tambahan yang lebih canggih.
"Sebenarnya pakai Windows atau Linux tidak jadi masalah. Walaupun biasannya admin infrastruktur kebanyakan pakai Linux atau Mac. Asalkan mereka menerapkan settingan yang konservatif, harusnya relatif sama tingkat keamanan nya," tutur Alfons.
Alfons juga menyoroti resource atau SDM yang mengelola Pusat Data Nasional. Kendati hanya menggunakan Windows Defender, yang relatif basic, sebetulnya kalau tata kelolanya jelas dan sesuai SOP, keamanannya bisa juga dijaga.
Sebab menurut Alfons, Windows Defender tidak hanya sebagai antivirus saja. Tapi ada fungsi atau fitur lainnya yang bisa digunakan untuk memaksimalkan proteksi komputer yang digunakan sebagai server pusat data.
"Harusnya tidak hanya perlindungan antivirus saja, tetapi ada early warning dan penjagaaan dari akses tidak sah. Update patch otomatis dan penutupan port-port yang tidak diperlukan. Harusnya mereka (yang mengelola server) tahu, tapi untuk disiplin menjalankan itu yang susah," tandas Alfons.