Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 7 Agustus 2019 | 22.02 WIB

Soal Rektor Asing, Totok Amin: Harus Diikuti Perampingan Birokrasi

Pengamat pendidikan tinggi Totok Amin Soefijanto - Image

Pengamat pendidikan tinggi Totok Amin Soefijanto

RENCANA pemerintah menempatkan rektor asing di perguruan tinggi negeri (PTN) bisa jadi membawa terobosan positif. Mulai mengerek peringkat, publikasi, kualitas, hingga branding kampus negeri tanah air berkelas dunia. Tapi, memang dibutuhkan penyesuaian agar akademisi luar negeri itu mampu menunjukkan kerja nyata seperti target Kemenristekdikti. Berikut obrolan wartawan Jawa Pos Agas Putra Hartanto dengan pengamat pendidikan tinggi Totok Amin Soefijanto kemarin (6/8).

---

Apakah menurut Anda rencana program rektor asing tepat?

Tepat, tapi dengan penyesuaian kondisi. Salah satunya dengan merampingkan struktur organisasi birokrasi. Agar rektor asing mampu bekerja dengan baik. Di Indonesia struktur organisasi PTN umumnya terdiri atas majelis wali amanat (MWA), senat akademik, dan dewan guru besar. Dalam membuat kebijakan, rektor harus mendapat persetujuan dari tiga unsur itu. Ribet memang. Dan mengandung unsur politis.

Berarti harus mengubah statuta universitas?

Statuta bukan kitab suci yang tidak bisa diubah. Ketentuan rektor harus warga negara Indonesia (WNI), pegawai negeri sipil (PNS), dan sebagainya itu akan merepotkan dan menghambat. Sistem birokrasi kampus harus lebih simpel dan profesional. Nah, yang terjadi di Indonesia, rektor ini jabatan politis. Padahal seharusnya (posisi dan kerja mereka, Red) profesional.

Apa kompetensi yang harus dimiliki seorang rektor agar membawa PTN tanah air mampu bersaing di tingkat global?

Ada enam. Secara akademik excellent, kemampuan sebagai manajer yang baik, leadership, pengumpul dana, memiliki jejaring yang kuat dengan komunitas peneliti maupun kampus internasional, dan marketing.

Apakah selama ini rektor PTN di Indonesia tidak seperti itu?

Selama ini jabatan rektor hanya dianggap sebagai jenjang karir. Akademisi Indonesia yang pintar di bidang tertentu banyak. Tetapi, apakah itu (sudah) cukup? Tentu tidak. Rektor harus memiliki jejaring yang luas, kemampuan marketing yang mumpuni, dan manajerial yang baik.

Ingat, kampus adalah sebuah institusi. Jadi harus berpikir bagaimana membawa branding PTN ini dikenal negara luar. Ingat, menaikkan peringkat tidak hanya ditentukan publikasi jurnal internasional. Banyak faktor lain yang menjadi penentu. Dan itu seharusnya menjadi pekerjaan yang dituntaskan rektor.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore