JawaPos Radar

Darurat Kesehatan Generasi Emas

Oleh: Djoko Santoso*

28/12/2017, 19:35 WIB | Editor: Miftakhul F.S
Generasi Emas
Djoko Santoso (Jawa Pos Photo)
Share this

JIKA wabah difteri belum mereda, memasuki 2018, beban Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan semakin bertambah. Selain sejumlah permasalahan yang tak kalah penting, seperti sustainable development goals (SDG’s) bidang kesehatan, termasuk permasalahan kesehatan remaja. Beban sangat berat yang menumpuk tersebut bukan hal yang mudah diatasi.

Problemnya nyata. Setiap tahun ada sekian ratus ribu kehamilan usia din, aborsi, bayi telantar, bahkan banyak ditemukan bayi meninggal. Belum lagi laporan banyak anak diperkosa. Padahal, problem itu merupakan angka-angka yang hanya mewakili puncak gunung es.

Alasan lainnya menyangkut konsekuensi berapa besar yang dianggarkan ke sana. Untuk itu, mungkin sedikit skeptis bila melihat perkembangan pertumbuhan ekonomi 2017 dan 2018. Bahkan, hingga kini tak ada perhatian khusus, atau semacam gugus tugas, untuk mengawal cita-cita mencipta generasi emas 2030 (tinggal 12 tahun lagi) tersebut. Saat itu penduduk Indonesia diprediksi 288 juta (bila KB berhasil), tapi bisa meledak ke 345 juta (bila KB jebol).

Bila dalam jumlah penduduk sebesar itu generasi mudanya tak jadi generasi emas, akan menjadi mimpi buruk bagi masa depan Indonesia. Generasi dengan kualitas pas-pasan atau lemah akan melahirkan banyaknya pengangguran berikut patologi sosialnya, seperti dekadensi moral, narkoba, kekerasan, HIV/AIDS, dan hawa jahat kotak pandora lainnnya.

Sangat diharapkan penanganan kelompok kesehatan remaja sebisanya diprioritaskan lebih dahulu. Investasi itu strategis ketimbang nanti kita sibuk memadamkan ekses akibat kita abai saat ini. Kalau boleh dikatakan, kondisi ignorance ini sudah sangat darurat.

Namun, apa pun, pasti bisa ditempuh peta jalan di depan kita yang menentukan apa bisa Indonesia melewati problem pelik ini. Bagaimana sikap dan kebijakan politik kesehatan terhadap masalah kesehatan remaja yang dapat dicegah dan diobati (seperti penyakit menular, malanutrisi, HIV, kesehatan reproduksi, cedera), dan mengatasi kekerasan adalah kuncinya. Tentu keterlibatan orang tua dan masyarakat sebagai bagian dari aktor solutif ini sangat penting. Kerja sama dan kolaborasi oleh semua pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Kementerian Sosial, sungguh menjadi sangat penting.

Bila tindakan sistematis strategis tersebut mengacu dari skema masa depan yang dibuat The Lancet Commission on Adolescent Health (2016) bahwa: ”Investasi kesehatan remaja memberikan tiga kali lipat keuntungan saat ini, ke dalam kehidupan dewasa di masa depan, dan generasi penerus generasi emas, maka tentu sangat membuat semua kerja keras membuahkan kebanggaan karena akan memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang sangat besar.” Dengan demikian, tidak alasan untuk tidak segera diprioritaskan untuk direalisasikan. Apalagi, hal ini juga merupakan mandat masyarakat internasional untuk semua negara tak terkecuali.

Dari sudut pandang personal, begitu banyak kebutuhan dari remaja yang kurang sekali terpenuhi dalam hal perawatan kesehatan, khususnya ada di bidang kesehatan reproduksi. Selain itu, ada hambatan yang harus diterima kelompok ini, termasuk kurangnya pengalaman dan kurangnya pengetahuan dalam mengakses masalah kesehatannya.

Belum lagi ada hambatan hukum, daya beli yang rendah, stigma yang melekat, sikap masyarakat dan nilai moral yang menambah masalah kelak tambah pelik. Dan akhirnya menjadi jelas sesungguhnya itu problem ketidaksetaraan gender yang akan mengakibatkan terlalu banyak remaja putri yang tidak memiliki akses terhadap layanan kesehatan reproduksi, banyak yang tidak dapat menerima pendidikan dan layanan keluarga berencana.

Dalam hal kelompok perkawinan dini pun, pemerintah belum juga bisa menurunkan sesuai harapan. Mereka ini cenderung kelompok terekspos riwayat lambat dalam menyelesaikan pendidikannya dan banyak kelompok ini harus berhenti sekolah. Mereka juga cenderung tidak punya skill sehingga bisa ditebak mereka tidak siap memasuki angkatan kerja, yang akhirnya membuat keluarga mereka menjadi lebih miskin, dan anak-anak mereka dengan masa depan yang suram.

Solusi perawatan kesehatan seksual dan reproduksi sangat diharapkan bisa melestarikan kesehatan remaja dan anak perempuan. Jangan sampai mereka rentan terhadap pemaksaan, infeksi menular seksual, dan kehamilan yang tidak diinginkan. Perkuat dengan target ”emas” seperti menjadikan mereka terdidik, terampil, dan diberdayakan. Singkirkan juga hambatan hukum dan sosial agar lancar dalam mengakses informasi dan layanan pengetahuan seksual.

Pendidikan seksualitas komprehensif memungkinkan kaum remaja untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan mereka secara mandiri. Ini sekaligus juga mendukung kesetaraan gender dan melindungi hak semua remaja. Pendidikan seksualitas memberikan informasi yang akurat secara ilmiah tentang pengembangan manusia, kesehatan reproduksi, serta informasi tentang kontrasepsi, persalinan dan infeksi menular seksual termasuk HIV. Ini lebih dilengkapi lagi dengan menyediakan informasi dan diskusi tentang kehidupan keluarga, hubungan, peran budaya dan gender, termasuk hak asasi manusia, kesetaraan gender, ancaman terhadap diskriminasi dan pelecehan seksual.

Pada akhirnya, semua itu membantu remaja dalam mengembangkan harga diri dan keterampilan hidup yang mendorong pemikiran kritis, komunikasi yang produktif, pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dan perilaku terhormat. Pendidikan seksualitas mengurangi perilaku berisiko, menunda aktivitas seksual sampai menikah, dan kehamilan yang tidak direncanakan.

Generasi macam apa yang akan kita depat dalam masa depan (yang dekat) bergantung bagaimana kita memprioritaskan pembangunan lahir batin buat kaum remaja. Jangan sampai generasi mendatang jadi generasi karatan, tapi generasi mulia, generasi emas nan kemilau. (*)

*) Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up