alexametrics

HUT Ke-728 Surabaya: Membaca Arah Kepemimpinan Kota Berkelanjutan

Oleh SUPARTO WIJOYO *)
31 Mei 2021, 19:48:01 WIB

HARI ini adalah saat HUT pertama Surabaya di bawah kepemimpinan Eri Cahyadi-Armudji. Beliau pasti paham bahwa kota ini tak boleh terlelap. Surabaya harus berkemajuan dalam poros dunia. Konfigurasi taman-taman indah dan bertenggernya beton-beton jangkung merepresentasikan Surabaya ”living the global city” yang diintroduksi John Eade.

Kota yang menawarkan beragam kemudahan dalam bingkai green city, smart city, maupun layanan digital sebagai persyaratan global, our urban future dalam telisik The Worldwatch Institute. Saya menyaksikan aura semringah keduanya. Telah ditawarkan mimpi seperti dirumuskan Frans Kafka, senapas ”realitas yang belum mampu dijangkau konsepsi”.

Kepemimpinan Klimatopolis

Dalam kosmologi perkotaan, betapa beragam permasalahan yang harus dientas: MBR, penguatan UMKM, pemborosan energi, layanan pendidikan, kesehatan, disparitas wilayah dan pendapatan warga, jalanan rusak, pencemaran lingkungan, tata ruang yang menyimpang, maupun degradasi ekologis. Sehubungan dengan hal itu, Matthew W. Kahn telah memublikasikan konsepsinya dalam membangun kota yang bervisi klimatopolis. Iklim dapat menjadi pijakan dalam merencanakan pembangunan di setiap jengkal titik koordinat kawasannya.

Pembangunan kota yang partisipatoris dengan pendekatan ekologis telah menjadi tipe ideal tata kelola pemerintahan. Model pembangunan ini sekarang lazim dikualifikasi pada rumpun kota berkelanjutan (sustainable city). Pembangunan inilah pembangunan kota yang ”halal” dengan mengintegrasikan kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Pemimpin yang sadar iklim tidak akan memproduksi program yang kalau di musim hujan sibuk membenahi jalan, membangun tanggul, membersihkan gorong-gorong, sementara di musim kemarau ribet menanam pohon. Pola perencanaan dan penganggaran yang berorientasi klimatopolis saatnya direalisasi agar pembangunan tidak keliru cuaca dan salah menangkap kebutuhan warga.

Gerakan mengantor di kelurahan telah menimbulkan simpati dan wahana konkretisasi visi-misi bagi problema setempat. Mengikuti bahasa New York City Department of Design + Construction 2007–2030, inilah agenda mempersiapkan excellence program manajemen kawasan ke depan.

Sebagai warga, tentu jiwa saya melambung atas posisi penting metropolitan ini di panggung global. Nilai-nilai keseimbangan sosial-ekonomi-ekologi diwujudkan dengan ”menyihir” zona kota sebagai tempat berkonvergensinya segenap kepentingan sedasar SDGs (sustainable development goals). Di Surabaya, 70–75 persen warganya memiliki akses air bersih, 15 persen bahkan sangat bersih, meski sekitar 5–15 persen secara akumulatif belum menikmatinya.

Inilah bagian PR agar semua warga mendapatkan haknya, termasuk kasus surat ijo. Perlindungan gedung dan situs cagar budaya kian bergelora. Rancang bangun kampung dengan produk tematiknya dan moda transportasi Kalimas adalah futuristis.

Inilah Parijs van Java

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads