Logo JawaPos
Author avatar - Image
Penulis: Herry Gunawan
Kamis, 5 November 2026 | 18.21 WIB

Arah Perekonomian Kuartal III-2026 Masih Positif

Herry Gunawan. (Dok. Pribadi) - Image

Herry Gunawan. (Dok. Pribadi)

Oleh: Herry Gunawan

SEJUMLAH indikator ekonomi hingga kuartal III-2026 masih bergerak positif, sehingga berpeluang mendukung kinerja pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut. Beberapa indikator positif itu, misalnya, kinerja konsumsi masyarakat, investasi dan aktivitas sektor usaha, maupun neraca perdagangan.

Hingga triwulan III-2026, aktivitas konsumsi masyarakat yang menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) masih tumbuh positif. Begitu pun dengan investasi, yang ditopang oleh gairah para pemodal asing atau Penanaman Modal Asing (PMA). Perkembangan ini memberikan sinyal baik bagi pertumbuhan ekonomi. 

Menurut publikasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi, realisasi investasi pada teriwulah III-2026 mencapai Rp528,7 triliun, tumbuh 7,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year, yoy). Kenaikan investasi tersebut ditopang oleh pertumbuhan PMA yang sebesar 27,43 persen, hingga mampu mendongkrak kinerja investasi secara keseluruhan, walaupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mengalami kontraksi.

Data penyaluran kredit yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia turut memperkuat perkembangan investasi, indikator ekonomi yang memberikan kontribusi terbesar kedua bagi PDB, yakni sekitar 29 persen.

Pada Triwulan III-2026, seluruh kredit menurut jenis penggunaan mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan tertinggi tercatat pada penyaluran kredit untuk investasi yakni tumbuh sebesar 23,20% (yoy). 

Geliat ekonomi juga terjadi pada lapangan usaha pengolahan, sektor usaha yang merupakan kontributor terbesar bagi perekonomian nasional, yakni sekitar 19 persen. Menurut indeks manufaktur Indonesia atau Purchasing Managers’ Indeks (PMI) Manufaktur yang dikeluarkan oleh S&P Global, indeksnya ada di posisi 52,4 pada September 2026. 

Data kenaikan indeks manufaktur Indonesia dari S&P Global yang berada di atas angka 50 menunjukkan bahwa industri pengolahan di Tanah Air sedang mengalami ekspansi, bukan sedang wait and see. Indikator tersebut memberikan harapan terjadinya potensi penyerapan tenaga kerja di sektor formal akan tetap membaik. 

Menurut S&P Global, indeks manufaktur Indonesia yang sebesar 52,4 pada September tersebut merupakan yang tertinggi sejak Februari 2026 dan menunjukkan ekspansi baru dalam aktivitas pabrik. Produksi dan pesanan baru tumbuh pada laju tercepat sejak Februari.

Selain membaiknya kinerja investasi dan lapangan usaha pengolahan, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia juga mengalami surplus sbesar USD 7,25 miliar. Dari data yang dikeluarkan BPS tersebut terlihat, kinerja non-migas menjadi penopang, dengan surplus neraca perdagangan mencapai USD 28,5 miliar, walaupun sektor migas mengalami defisit USD 21,3 miliar.

Editor: Edy Pramana
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore