
Herry Gunawan. (Dok. Pribadi)
Oleh: Herry Gunawan
SEJUMLAH indikator ekonomi hingga kuartal III-2026 masih bergerak positif, sehingga berpeluang mendukung kinerja pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut. Beberapa indikator positif itu, misalnya, kinerja konsumsi masyarakat, investasi dan aktivitas sektor usaha, maupun neraca perdagangan.
Hingga triwulan III-2026, aktivitas konsumsi masyarakat yang menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) masih tumbuh positif. Begitu pun dengan investasi, yang ditopang oleh gairah para pemodal asing atau Penanaman Modal Asing (PMA). Perkembangan ini memberikan sinyal baik bagi pertumbuhan ekonomi.
Menurut publikasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi, realisasi investasi pada teriwulah III-2026 mencapai Rp528,7 triliun, tumbuh 7,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year, yoy). Kenaikan investasi tersebut ditopang oleh pertumbuhan PMA yang sebesar 27,43 persen, hingga mampu mendongkrak kinerja investasi secara keseluruhan, walaupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mengalami kontraksi.
Data penyaluran kredit yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia turut memperkuat perkembangan investasi, indikator ekonomi yang memberikan kontribusi terbesar kedua bagi PDB, yakni sekitar 29 persen.
Pada Triwulan III-2026, seluruh kredit menurut jenis penggunaan mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan tertinggi tercatat pada penyaluran kredit untuk investasi yakni tumbuh sebesar 23,20% (yoy).
Geliat ekonomi juga terjadi pada lapangan usaha pengolahan, sektor usaha yang merupakan kontributor terbesar bagi perekonomian nasional, yakni sekitar 19 persen. Menurut indeks manufaktur Indonesia atau Purchasing Managers’ Indeks (PMI) Manufaktur yang dikeluarkan oleh S&P Global, indeksnya ada di posisi 52,4 pada September 2026.
Data kenaikan indeks manufaktur Indonesia dari S&P Global yang berada di atas angka 50 menunjukkan bahwa industri pengolahan di Tanah Air sedang mengalami ekspansi, bukan sedang wait and see. Indikator tersebut memberikan harapan terjadinya potensi penyerapan tenaga kerja di sektor formal akan tetap membaik.
Menurut S&P Global, indeks manufaktur Indonesia yang sebesar 52,4 pada September tersebut merupakan yang tertinggi sejak Februari 2026 dan menunjukkan ekspansi baru dalam aktivitas pabrik. Produksi dan pesanan baru tumbuh pada laju tercepat sejak Februari.
Selain membaiknya kinerja investasi dan lapangan usaha pengolahan, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia juga mengalami surplus sbesar USD 7,25 miliar. Dari data yang dikeluarkan BPS tersebut terlihat, kinerja non-migas menjadi penopang, dengan surplus neraca perdagangan mencapai USD 28,5 miliar, walaupun sektor migas mengalami defisit USD 21,3 miliar.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Prediksi Skor Rennes vs Olympiakos: Tuan Rumah Andalkan Kekuatan Bermain di Roazhon Park
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Club Brugge di Liga Champions: Blauw-Zwart Bidik Kemenangan Tandang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Bonek Murka! Persebaya Dibantai Kendal Tornado, Uston Nawawi Gantikan Tavares?
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
8 Hal yang Dianggap Membosankan oleh Ekstrovert, tetapi Justru Menjadi Kebahagiaan bagi Introvert

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022