
Gede Yohannes Arygunartha,S.Pd.,M.Pd Fis. (Istimewa).
Oleh : Gede Yohannes Arygunartha,S.Pd.,M.Pd Fis *)
PENDIDIKAN tidak hanya sebagai salah satu alat yang digunakan untuk mengembangkan pengetahuan di sekolah, tetapi juga digunakan sebagai aspek pendidikan. Salah satu aspek pendidikan yang digunakan di era globalisasi pada saat ini adalah pembelajaran PAIKEM.
PAIKEM singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Menurut Permendiknas No 41 Tahun 2007 tentang standar proses juga dinyatakan bahwa dalam kegiatan inti pembelajaran harus dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik.
Hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh dari proses pembelajaran dan dapat dijadikan sebagai ukuran kemampuan seseorang dalam memahami materi pelajaran. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku dalam diri manusia.
Proses belajar menghasilkan berbagai bentuk perubahan, seperti peningkatan pengetahuan, sikap, keterampilan, kemampuan, informasi, serta nilai-nilai. Berbagai bentuk perubahan tersebut disebut sebagai hasil belajar.
Prestasi belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa selama mengikuti proses pembelajaran yang dapat diukur melalui tes, kuis, ujian, maupun bentuk penilaian lainnya. Prestasi belajar menunjukkan kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran, menerapkan konsep yang dipelajari, serta mengembangkan berbagai keterampilan.
Selain itu, prestasi belajar juga mencerminkan kemampuan siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hasil prestasi belajar biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai angka maupun kategori tertentu, seperti A, B, C, atau D.
Implikasi dari Model STM ini adalah Pertama, siswa sebelum mengikuti proses pembelajaran telah memiliki pengetahuan awal yang tentunya berbeda-beda untuk setiap individu. Cara mengubah konsepsi alternatif menjadi konsepsi ilmiah adalah dengan memberikan konsep yang baru kepada siswa melalui proses dissatisfaction, intelligible, plausible, dan fruitful.
Konsepsi baru tersebut harus memenuhi empat syarat agar mampu menggugah pebelajar yang masih miskonsepsi, yaitu 1) dissatisfaction, 2) intelligible, 3) plausible, dan 4) fruitful. Konsepsi baru harus mampu menumbuhkan motivasi bagi siswa bahwa konsepsi awal yang miskonsepsi tersebut kurang tepat untuk menjelaskan suatu konsep yang dipelajari sehingga muncul ketidakpuasan dalam diri siswa terhadap konsepsi awal yang dimiliki.

Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Analisis Prediksi Bursa Prancis vs Inggris di Piala Dunia 2026: Les Bleus Lebih Dijagokan Rebut Posisi Ketiga
Analisis Prediksi Bursa Spanyol vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Roja Lebih Dijagokan Juara Piala Dunia 2026
Usai Timnas Inggris Gagal ke Final Piala Dunia 2026, Gary Neville dan Roy Keane Saling Adu Pendapat
Presiden Prabowo Hadiri Panen Raya TNI: Hari Ini Saya Bahagia
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
