alexametrics

Yang Lebih Besar, Minggir

Oleh EKA KURNIAWAN, Novelis
26 Juli 2020, 13:02:43 WIB

SEKELOMPOK anak-anak bermain bola di lapangan kecil perumahan. Karena tempatnya kecil, tak semua anak bisa ikut bermain. Hanya anak-anak lebih besar yang bisa bermain. Yang lebih kecil, hanya dipilih yang jago bermain bola.

Ini sering bikin frustrasi anak-anak yang lebih kecil, tapi tak begitu jago. Bagaimana bisa menjadi jago kalau kesempatan tak pernah diberikan untuk sekadar menendang bola? Ada memang anak kecil yang jago dan mau gantian dengan kawannya, tapi anak-anak yang lebih besar tak suka.

’’Enggak asyik main sama anak kecil yang enggak bisa apa-apa.”.

Segala sesuatu di lapangan kecil itu memang diatur anak-anak yang lebih besar. Mereka yang mengatur siapa bisa bermain dan kapan. Mereka bahkan memegang bolanya.

Akhirnya anak-anak kecil mengalah. Mereka patungan membeli bola sendiri, lalu bermain di antara mereka di pojok jalan kompleks yang jarang dilalui kendaraan. Anak-anak kecil yang jago main bola, yang biasanya bermain dengan anak lebih besar, akhirnya bergabung.

Bagaimanapun, lebih seru bermain dengan teman sebaya. Bagaimanapun, bermain dengan anak-anak yang lebih gede lebih sering tidak dapat bola. Singkat cerita, permainan di pojok jalan jadi lebih seru dan ramai daripada di lapangan kecil.

Pada gilirannya, anak-anak yang lebih besar mulai kesal karena hanya sedikit yang bermain di lapangan. Jumlah mereka hanya lima orang. Mereka mulai sadar, bermain di pojok jalan dengan jumlah pemain lebih banyak tampak mengasyikkan.

Sialnya ketika mau bergabung, mereka ditolak.

’’Enggak seru main sama kakak-kakak,” kata anak-anak kecil itu. Satu di antara mereka bahkan berani berkata pedas, ’’Yang kecil suka ditolak main di lapangan. Sekarang yang besar enggak boleh main di sini.”

Apakah itu sejenis diskriminasi dilawan dengan diskriminasi yang lain? Lihat, anak-anak yang lebih besar melakukan diskriminasi siapa yang bisa bermain di lapangan kecil kompleks. Apakah dengan menolak anak-anak besar bermain di pojok jalan bersama mereka, anak-anak kecil melakukan diskriminasi yang sama?

Kita bisa melihat kisah-kisah sejenis di dalam konteks yang lebih luas. Industri perbukuan dan kesusastraan Indonesia, misalnya, secara umum diisi penulis-penulis dan wacana di Jawa dan Sumatera.

Pembaca juga terkonsentrasi di wilayah tersebut. Demikian juga toko buku. Lebih sialnya, harga buku lebih murah pula di Jawa ketimbang di luar pulau itu. Ketika kesadaran baru muncul dan penerbit mulai membuka pintu lebih luas, tempo hari ada yang berkomentar dengan sinis:

’’Dari mana? Indonesia Timur? Terbit. Dari mana? Jabodetabek? Tolak.” Itu memang bahasa saya sendiri. Aslinya lebih kasar dari itu. Ia memang akhirnya meminta maaf, tapi membuat kita bertanya: apakah penulis Jabodetabek merasa terdiskriminasi?

Orang mungkin akan berargumen, ’’Sebuah buku diterbitkan karena kualitasnya, bukan karena dari mana penulisnya berasal, gender, orientasi seksual, atau lainnya.”

Banyak hal yang bisa dikritik dari pernyataan semacam itu. Apa itu kualitas? Siapa yang menguasai standar-standar kualitas?

Bukankah itu sejenis dengan argumen kakak-kakak di kompleks yang mengatakan, ’’Yang main bola hanya yang jago.”

Siapa yang membuat standar ’’jago”? Tentu saja si kakak-kakak itu. Jago menurut mereka adalah perspektif anak-anak umur 14–15 tahun, bukan anak-anak 8–9 tahun.

Di dunia ini, meskipun kesetaraan merupakan jargon yang diucapkan nyaris setiap hari, banyak orang atau kelompok yang tetap tersingkir dari gelanggang. Meskipun jargon semua manusia memiliki hak dasar yang sama, tetap saja muncul sekelompok orang merasa bisa mengatur kelompok yang lain.

Di jalan raya, kita masih melihat sepeda, apalagi kursi roda, tersingkir. Di sekolah-sekolah, kita tahu lebih sering murid direkrut berdasar kemampuan akademik: yang pintar akan semakin pintar, yang tertatih-tatih akan semakin tertinggal.

Ketika sekolah tak lagi melihat prestasi akademik, tapi daerah tempat tinggal misalnya, apakah anak yang pintar merasa terdiskriminasi? Jika ada jalan khusus sepeda, haruskah mobil merasa diabaikan?

Tidak. Kita kembali ke kasus anak-anak di kompleks. Ketika anak-anak kecil bermain di sudut jalan dan menolak anak-anak besar bergabung, itu tak bisa dilihat sebagai diskriminasi.

Kenapa? Karena anak-anak besar memiliki lapangan dan bola. Mereka bahkan bisa bermain di sudut jalan yang lain atau keluar kompleks.

Anak-anak kecil itu hanya bisa dianggap melakukan diskriminasi jika mereka memiliki akses terhadap lapangan dan ruang-ruang lain, sebagaimana terhadap bola, dalam hubungan yang sungguh setara dengan anak-anak yang lebih besar.

Mereka tak memilikinya. Mereka hanya memiliki sudut jalan itu. Mereka hanya mempertahankan apa yang susah payah mereka rebut. Orang sering lupa, diskriminasi, sebagaimana kesetaraan, hanya bisa dimengerti dalam konteks hubungan kekuasaan.

Bukankah orang kelaparan yang tak memberi makan orang kekenyangan juga tak bisa disebut pelit? (*)

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

 

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads