
Eka kurniawan
SEKELOMPOK anak-anak bermain bola di lapangan kecil perumahan. Karena tempatnya kecil, tak semua anak bisa ikut bermain. Hanya anak-anak lebih besar yang bisa bermain. Yang lebih kecil, hanya dipilih yang jago bermain bola.
Ini sering bikin frustrasi anak-anak yang lebih kecil, tapi tak begitu jago. Bagaimana bisa menjadi jago kalau kesempatan tak pernah diberikan untuk sekadar menendang bola? Ada memang anak kecil yang jago dan mau gantian dengan kawannya, tapi anak-anak yang lebih besar tak suka.
’’Enggak asyik main sama anak kecil yang enggak bisa apa-apa.”.
Segala sesuatu di lapangan kecil itu memang diatur anak-anak yang lebih besar. Mereka yang mengatur siapa bisa bermain dan kapan. Mereka bahkan memegang bolanya.
Akhirnya anak-anak kecil mengalah. Mereka patungan membeli bola sendiri, lalu bermain di antara mereka di pojok jalan kompleks yang jarang dilalui kendaraan. Anak-anak kecil yang jago main bola, yang biasanya bermain dengan anak lebih besar, akhirnya bergabung.
Bagaimanapun, lebih seru bermain dengan teman sebaya. Bagaimanapun, bermain dengan anak-anak yang lebih gede lebih sering tidak dapat bola. Singkat cerita, permainan di pojok jalan jadi lebih seru dan ramai daripada di lapangan kecil.
Pada gilirannya, anak-anak yang lebih besar mulai kesal karena hanya sedikit yang bermain di lapangan. Jumlah mereka hanya lima orang. Mereka mulai sadar, bermain di pojok jalan dengan jumlah pemain lebih banyak tampak mengasyikkan.
Sialnya ketika mau bergabung, mereka ditolak.
’’Enggak seru main sama kakak-kakak,” kata anak-anak kecil itu. Satu di antara mereka bahkan berani berkata pedas, ’’Yang kecil suka ditolak main di lapangan. Sekarang yang besar enggak boleh main di sini.”
Apakah itu sejenis diskriminasi dilawan dengan diskriminasi yang lain? Lihat, anak-anak yang lebih besar melakukan diskriminasi siapa yang bisa bermain di lapangan kecil kompleks. Apakah dengan menolak anak-anak besar bermain di pojok jalan bersama mereka, anak-anak kecil melakukan diskriminasi yang sama?
Kita bisa melihat kisah-kisah sejenis di dalam konteks yang lebih luas. Industri perbukuan dan kesusastraan Indonesia, misalnya, secara umum diisi penulis-penulis dan wacana di Jawa dan Sumatera.
Pembaca juga terkonsentrasi di wilayah tersebut. Demikian juga toko buku. Lebih sialnya, harga buku lebih murah pula di Jawa ketimbang di luar pulau itu. Ketika kesadaran baru muncul dan penerbit mulai membuka pintu lebih luas, tempo hari ada yang berkomentar dengan sinis:
’’Dari mana? Indonesia Timur? Terbit. Dari mana? Jabodetabek? Tolak.” Itu memang bahasa saya sendiri. Aslinya lebih kasar dari itu. Ia memang akhirnya meminta maaf, tapi membuat kita bertanya: apakah penulis Jabodetabek merasa terdiskriminasi?
Orang mungkin akan berargumen, ’’Sebuah buku diterbitkan karena kualitasnya, bukan karena dari mana penulisnya berasal, gender, orientasi seksual, atau lainnya.”
Banyak hal yang bisa dikritik dari pernyataan semacam itu. Apa itu kualitas? Siapa yang menguasai standar-standar kualitas?
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Valencia vs Real Betis di Liga Spanyol: Tuan Rumah Kesulitan Menang!
Robot Humanoid Tiongkok Kalahkan Rekor Lari Usain Bolt, Lalu Terbakar
Prediksi Skor Bodo/Glimt vs NEC Nijmegen di Kualifikasi Liga Champions: Tuan Rumah Menang!
Prediksi Skor LASK Linz vs Celtic di Kualifikasi Liga Champions: Kans Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Sabah vs Hapoel Be'er Sheva di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027
Prediksi Skor Rapid Vienna vs Hearts: Tuan Rumah Terancam Tumbang di Liga Konferensi Eropa
Prediksi Skor Viking FK vs Dinamo Zagreb: Purgeri Diprediksi Menang Tipis di Norwegia!
Prediksi Skor AEK Athens vs Levski Sofia di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Tuan Rumah Menang!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
