Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 22 Oktober 2025 | 17.54 WIB

Santri, Pesantren dan Masa Depan Peradaban Indonesia

Prof. Dr. Imam Subchi, MA, Dosen S3 Sejarah PeradabanIslam, Wakil Rektor II UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (dok. pribadi) - Image

Prof. Dr. Imam Subchi, MA, Dosen S3 Sejarah PeradabanIslam, Wakil Rektor II UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (dok. pribadi)

Kemudian, keunikan relasi sosial tersebut yang tumbuh sampai saat ini menjadi objek penelitian yang telah dilakukan oleh para sarjana, seperti Martin van Bruinessen, Clifford Geertz, Robert Jay, K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Cak Nur, dan para sarjana lainnya. Penelitian yang dilakukan oleh para sarjana tersebut karena pesantren sebagai medium utama untuk menambah khazanah pengetahuan memiliki karakteristik yang berbeda dan memiliki peranan yang besar.

Saat ini, secara mutakhir pondok pesantren mengalami transformasi sekaligus menunjukkan perubahan, terutama dalam memodifikasi kurikulum pendidikan yang lebih mengutamakan perpaduan antara nilai-nilai kultural dan modernitas. Dengan kata lain, pondok pesantren sangat adaptif terhadap peradaban modern.

Sebab, stereotipe yang berkembang di ruang publik terhadap pesantren sangat beragam sekali, terutama mengarah kepada hal ihwal yang tradisionalis semata. Namun, setelah proses transformasi berjalan secara gradual, pondok pesantren mengalami perluasan – baik secara letak geografis, kurikulum, dan para santri.

Secara faktual, awalnya kiai hanya memiliki pondok pesanten yang sekadar memiliki para santri. Meski demikian, perkembangan pendidikan kontemporer menjadikan pondok pesantren semakin berubah dan menciptakan tumbuhnya pendidikan pesantren di mana-mana sekaligus tumbuhnya sekolah-sekolah modern yang dikelola oleh para kiai.

Pergeseran ini mengafirmasi bahwa telah terjadi transformasi di dunia pesantren. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Nurcholis Madjid bahwa pesantren telah melakukan akomodasi atau penyesuaian terhadap sistem penjenjangan, kurikulum yang secara jelas, dan sistem klasikal (Nurcholis Madjid, 1997).

Dalam hal ini, perspektif Cak Nur tersebut juga menampilkan bahwa kiai sebagai pemimpin utama merupakan cerminan seorang pemimpin. Biasanya, perilaku para kiai akan dipraktikkan oleh para santri dalam interaksi sosial, terlebih secara otoritas keagamaan juga didukung dengan adanya prinsip saling menghormati satu sama lainnya, terlebih terhadap para kiai.

Di samping itu, legitimasi tersebut juga terafirmasi daristatement dari Menteri Agama yang sedang dipimpin oleh Nasaruddin Umar sekaligus meneguhkan prinsip Asta Protas dan Asta Cita pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Terlebih Menteri Agama mengatakan secara eksplisit tentang keberadaan pesantren yang menanamkan nilai seperti moralitas, kesopanan, menciptakan risalah tentang sosio-budaya sekaligus bisa dikonversi terhadap keimanan seseorang, dalam konteks ini ialah santri.

Kesopanan para santri ini mencerminkan suatu nilai yang luhur terhadap kiai atau guru yang telah memberikan pemahaman keilmuan keagamaan dan keduniaan. Sehingga, dalam persepsi Menteri Agama hal tersebut bisa menjadi fondasi utama yang bisa melahirkan cita-cita untuk menciptakan manusia yang adil dan beradab.

Atas dasar tersebut, kehadiran pesantren sebagai medium utama bagi para santri juga melatih kepemimpinan para santri yang akan memimpin bangsa Indonesia kedepan. Hal ini relevan terhadap prospek Allah Swt., yang menciptakan manusia untuk dijadikan sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi.

Dengan kata lain, sebelum menjadi khalifah (pemimpin) tentu saja memerlukan pembekalan sedari awal, melalui pendidikan pesantren diharapkan tercipta pemimpin yang memegang nilai-nilai religiusitas. Oleh karena itu, kemampuan para kiai dan santri dalam tata kelola pendidikan tersebut berhasil beradaptasi dan meningkatkan kemampuan para santri.

Seiring meningkatnya kemampuan para santri ini berimplikasi terhadap kemampuan ekonomisnya untuk melakukan aktivitas usaha, bahkansetelah lulus dari pondok pesantren. Tak hanya itu, aktivitas ekonomi tersebut bisa menghasilkan kemandirian para santri dan pondok pesantren dan kegiatan ini selaras dengan perspektif dari Menteri Agama yang mendedahkan secara eksplisit, dimana ada pesantren – sudah tentu akan melahirkan kemandirian.

Kemandirian ini sangat penting, terlebih sebagai seorang manusia yang diciptakan sebagaiseorang pemimpin. Hal ini terekam secara eksplisit bahwa para kiai di pondok pesantren memberikan pelatihan kepada para santri yang sedang menimba ilmu, termasuk aktivitas para santri saat ini merambah ke sektor perekonomian seperti berjualan pakaian (sarung, baju, peci), dan berdagang.

Selain itu, pemerintah juga tampak memberikan keleluasaan kepada para santri untuk menempuh pendidikan melalui program beasiswa yang tersedia. Jadi, masa depan Indonesia akan semakin gemilang dengan keberadaan para kiai dan santri yang secara inheren menjunjung nilai dan norma.

*) Prof. Dr. Imam Subchi, MA, Dosen S3 Sejarah PeradabanIslam, Wakil Rektor II UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore