alexametrics

Peringatan Hari Guru, Refleksi Paradigma Pembelajaran Pascapandemi

Oleh UNIFAH ROSYIDI *)
25 November 2021, 19:48:27 WIB

MENYAMBUT Hari Guru Nasional (HGN) 2021 yang ditetapkan berdasar hari lahir Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November, terdapat beberapa catatan kritis yang dapat dikemukakan. Catatan itu berupa kemajuan maupun hal-hal yang perlu diperbaiki. Tujuannya agar tidak mengulangi kesalahan di masa lalu bahwa pendidikan di Indonesia jalan di tempat.

Selama ini terdapat potensi bahaya yang tersimpan cukup lama, namun tidak kita sadari. Yaitu, pendidikan di Indonesia mengalami stagnasi dalam segi kualitas selama kurang lebih dua dekade terakhir. Semakin lama kualitas pendidikan Indonesia tidak semakin baik. Hal itu terlihat dari berbagai ukuran penilaian kemajuan pendidikan dan daya saing bangsa secara internasional, misalnya dilihat dari skor PISA dan TIMMS.

Apa yang salah dalam dunia pendidikan kita? Sering kali guru dipersalahkan dalam situasi ini. Padahal, sebenarnya guru adalah ujung tombak bagi kita untuk melakukan perubahan dan perbaikan kualitas pendidikan. Karena itu, perannya harus diperkuat, diberdayakan, dan diberi otonomi. Jangan sampai, kalau ada persoalan pendidikan, seolah-olah guru menanggung beban itu sendirian. Beberapa dekade terakhir ini, para guru kita sebenarnya sudah melakukan banyak inovasi dan berbagai upaya terobosan yang kreatif.

Pandemi Covid-19 memang berdampak luas terhadap dunia pendidikan secara global, termasuk di Indonesia. Pandemi ini dapat dijadikan stepping stone atau titik anjak untuk menjadikan Indonesia maju. Dari berbagai catatan diskusi pendidikan selama ini, akibat pandemi Covid-19, seluruh sektor kehidupan porak-poranda, termasuk pendidikan. Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) dalam lamannya en.unesco.org memperkirakan lebih dari 100 juta anak di seluruh dunia akan jatuh di bawah tingkat kemahiran membaca minimum akibat pandemi.

Di Indonesia, setelah kasus pertama Covid-19 ditemukan pada 2 Maret 2020, tidak kurang dari 45,5 juta peserta didik tidak bisa mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM). Berdasar data Kemendikbudristek, mereka terdiri atas 25,2 juta siswa SD, 10,1 juta siswa SMP, 4,9 juta siswa SMA, dan 5,2 juta siswa SMK. Jika ditambah dengan peserta didik setingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) serta jenjang pendidikan keagamaan, jumlahnya sekitar 68 juta. Jumlah tersebut sekitar 5,44 persen dari 1,25 miliar siswa di seluruh dunia yang tidak bisa mengikuti PTM.

Kurikulum yang Dinamis

Hikmah yang dapat kita petik akibat pandemi ini antara lain meningkatnya kesadaran hidup sehat di kalangan siswa, guru, orang tua, dan para pemangku kepentingan. Selain itu meningkatnya kesadaran di kalangan siswa untuk belajar secara mandiri meskipun banyak kekurangan yang dihadapi. Juga meningkatnya gairah para guru untuk belajar teknologi pembelajaran secara masif.

Belajar mandiri adalah tipikal belajar di abad ke-21. Siswa dapat belajar dari berbagai sumber, belajar di mana saja tidak terbatas ruang dan waktu, serta guru berperan sebagai fasilitator. Terjadi perubahan paradigma dalam pembelajaran.

Ekosistem pendidikan juga mengalami perubahan. Seusai Covid-19, paradigma pembelajaran kita tidak akan kembali lagi seperti masa sebelum pandemi. Bauran pembelajaran (blending learning) daring dan luring akan menjadi pilihan yang tepat dan efektif. PTM terbatas (PTMT) yang saat ini diberlakukan dapat dijadikan point of departure atau titik berangkat. Karena itu, ada beberapa rekomendasi dari PGRI terkait hal tersebut.

Kurikulum yang dinamis sebagai lokomotif perubahan pembelajaran. Perlu adanya transformasi kurikulum tanpa kita sibuk berpikir untuk selalu mengubah kurikulum. Kita harus memikirkan ulang atau merevitalisasi delapan standar nasional pendidikan (SNP). Apakah semua delapan SNP itu masih relevan dalam situasi saat ini.

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads