Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 Juli 2024 | 18.37 WIB

Profesor Sarjono-Sujono

Hancurnya Intelektualitas dan Moralitas

Sayangnya, status profesor yang seharusnya menjadi simbol intelektualitas dan moralitas justru dicemari oleh masyarakat kampus sendiri. Para dosen yang kebelet (meminjam istilah Deddy Mulyana) mengejar profesor tetapi dengan cara-cara yang melanggar moral dan etika akademis telah meruntuhkan martabat profesor. Seperti yang terjadi di salah satu perguruan tinggi negeri di Kalimantan Selatan, para dosen ramai-ramai mengusulkan guru besar, tapi diduga cara-cara yang dilakukan melanggar moral dan etika.

Motivasi para dosen untuk mengejar status profesor lebih karena faktor ekonomi berupa tunjangan dan kewenangan akademis. Ada keistimewaan pada guru besar, yaitu berupa tunjangan khusus dan masa pensiun sampai usia 70 tahun. Itulah yang tampaknya menjadi faktor pendorong para dosen untuk mengejar status profesor meskipun dengan segala cara.

Cara yang dilakukan sebagian dosen dan beberapa perguruan tinggi dalam memperoleh predikat profesor inilah yang tampaknya menggoda para politikus dan birokrat ikut-ikutan mengejarnya. Ketidakmampuan masyarakat kampus dalam menjaga kehormatan dan kemartabatan profesor tanpa disadari telah merusak citra profesor sebagai simbol intelektualitas dan moralitas. Jika demikian, status perguruan tinggi sebagai pusat peradaban yang di dalamnya ada intelektualitas dan moralitas bisa hancur. (*)


*) WARSONO, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Negeri Surabaya

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore