Demokrasi tidak dihasilkan dari ”makan gratis”. Demokrasi juga tidak dibangun melalui subsidi makan siang gratis, tapi menebar ketakutan dengan alasan ketertiban. Pengalaman Orde Baru menunjukkan dengan gamblang bahwa pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik tidak serta-merta menjadi tolok ukur demokratisasi. Sebaliknya, menarik rezim Soeharto ke kubang otoritarianisme.
Selain Orde Baru, kisah roti dan sirkus di Romawi Kuno perlu jadi refleksi. Persis di tengah kelangkaan pangan dan surplusnya pencitraan elite politik. Agar bisa patuh, rakyat tidak selalu diberi makan, tapi juga ruang partisipasi politik dan kebebasan. Perut yang kenyang tidak serta-merta membuat orang jadi tertib. Jika cita rasa makanan memang tak enak, protes mungkin saja bisa muncul dari sana. (*)
*) ARDIMAN KELIHU, Peneliti di Research Center for Politics and Government (Polgov) Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
