Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 7 Agustus 2023 | 23.38 WIB

Agustusan, Ada Pilu dalam Gelak Tawa

KHAS AGUSTUSAN: Warga bersama dengan warga negara asing mengikuti lomba panjat pinang kolosal dalam rangka HUT Ke-74 Kemerdekaan RI di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta, kemarin (17/8). (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos) - Image

KHAS AGUSTUSAN: Warga bersama dengan warga negara asing mengikuti lomba panjat pinang kolosal dalam rangka HUT Ke-74 Kemerdekaan RI di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta, kemarin (17/8). (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos)

SEPOTONG pesan iseng masuk grup WhatsApp komunitas minggu-minggu belakangan. Bunyinya: Selamat memperingati hari gang buntu nasional.

Meski hanya candaan, hal itu memang sebuah kenyataan. Tiap tahun pada Agustus, para pengendara motor atau mobil harus pandai-pandai memprediksi situasi jalan yang akan dilalui. Utamanya, jalanan kampung atau perumahan harus ditutup karena beberapa kegiatan. Mulai memperbarui cat berem, mempercantik kampung dengan lampu hias, memasang umbul-umbul dan bendera, mengadakan berbagai macam lomba, sampai mempersiapkan tirakatan. Itu semua –semua orang sudah tahu–dilakukan demi peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tercinta. Di tempat-tempat tertentu digelar upacara. Dari kantor kecamatan sampai Istana Presiden.

Untuk lebih memeriahkan perayaan, digelar beragam lomba, utamanya bagi anak-anak dan balita. Keluguan dan kelucuan mereka cukup menghibur dan mengundang gelak tawa. Tidak hanya untuk anak dan balita, bapak-bapak dan emak-emak – dengan segala kelucuannya– juga bersemangat tampil dalam lomba. Untuk para senior itu, biasanya panitia memilihkan jenis lomba yang sesuai dengan usia mereka. Untuk bapak-bapak, ada sepak bola dengan kostum wajib: sarung atau daster. Mereka boleh memakai daster istrinya atau daster pembantunya. Yang jelas, tak boleh menggunakan daster baru.

Sedangkan bagi emak-emak, selain ada berbagai lomba individual, ada lomba secara tim: sepak bola. Bedanya, di tengah permainan ada break musik. Semua pemain wajib berjoget ria. Semua itu sekadar untuk lucu-lucuan, tentu bukan untuk prestasi.

Berbagai lomba, semisal panjat pohon pinang, lari karung, makan kerupuk, dan mengambil uang koin yang ditancapkan dalam buah labu bertabur tepung atau bedak dengan mulut, itu konon dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda.

Hanya, perayaan seperti itu tidak ’’dalam rangka’’ Hari Kemerdekaan RI, melainkan bergantung pada hajat para pejabat Belanda. Mulai ulang tahun, pernikahan, kelulusan, dan lain-lain. Yang jelas, tidak ada hajat khitanan.

Perayaan tersebut juga diselenggarakan pada Agustus. Tapi, bukan tanggal 17, melainkan tanggal 31 untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina, ratu Belanda yang memerintah negeri itu pada 1890 hingga 1948.

Menurut seseorang yang hidup di salah satu kota kecil di Indonesia pada masa itu, meski hanya perayaan berupa hiburan, banyak polisi yang berjaga di tempat acara dan sekitar rumah tuan Walondo (Belanda).

Mereka (polisi) konon berjaga untuk mengantisipasi serangan para pejuang kemerdekaan Indonesia yang selalu mencari waktu untuk bergerak.

Perayaan seperti itu, lanjut dia, biasanya memang digelar di tanah lapang di depan rumah besar tuan Walondo, sementara penghuninya melihat tontonan itu dari teras rumah ditemani berbotol wiski, brendi, dan sejenisnya. Ada juga apem dan berbagai jenis roti serta penganan lain.

Jika ada anak-anak berlarian mendekati teras, tuan Belanda itu melempar mereka dengan apem atau sepotong roti yang tentu menjadi rebutan anak-anak yang umumnya bertelanjang dada tersebut.

Anak-anak itu kemudian melakukan tabik (hormat dengan meletakkan telapak tangan di sisi kening, seperti militer) dengan mengucap, ’’Tabik, Tuan.’’ Biasanya tuan Belanda lantas melemparkan lagi apem, roti, atau sebiji permen (gula-gula).

Tuan Belanda mungkin bermaksud baik dengan perayaan-perayaan seperti itu. Selain hiburan untuk rakyat kecil, jajahannya, hal tersebut memupuk rasa kerja sama (gotong royong), kekompakan, dan kekuatan seperti dalam lomba panjat pohon pinang. Demikian juga jenis lomba-lomba yang lain, mengandung nilai filosofi positif.

Namun, beberapa kalangan menilai, lomba-lomba seperti itu dilakukan hanya untuk mengalihkan perhatian rakyat yang sedang berjuang demi kemerdekaan. Tentu jiwa pejuang tak membiarkan rakyat terlena. Apalagi jika bangsanya hanya diperlakukan sebagai bahan lelucon. Bangsa yang lucu.

Karena itu, sangat dianjurkan kepada panitia untuk –secara bertahap– menyelipkan –kalau tidak bisa menggantikan– jenis lomba lucu-lucuan tersebut dengan lomba yang lebih memicu kreativitas dan kecerdasan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore