SAMSUDIN ADLAWI
PULUHAN orang meriung. Menunggu giliran. Mata mereka memancarkan harapan –walau setitik. Mereka ingin diobati Ida Dayak. Ingin sembuh seperti pasien yang baru selesai diobati Ida Dayak. Dalam video, pasien itu langsung mengucap syukur, melihat tangannya kembali normal.
Pada video lainnya, Ida tampak mengobati pasien tunawicara. Tangannya mengurut bagian leher si pasien sambil sesekali menyemprotnya dengan minyak urut bikinannya sendiri. Tak lama berselang, si pasien yang sudah puluhan tahun tak bisa bicara, pelan-pelan bicara mengujarkan kata ’’saya’’ mengikuti ucapan Ida. Lalu, dia dibimbing mengucapkan ’’Saya mau kawin’’. Dan, bisa. Lancar. Sontak, si pasien menangis sebagai rasa syukur. Pun anggota keluarga yang mendampinginya.
Ya. Ida Dayak kini tengah viral di media sosial. Dalam banyak video yang beredar, wanita bernama asli Ida Andriyani itu terlihat jelas bisa mengobati pasien dalam sekejap. Pengobatan alternatifnya bisa menyembuhkan orang yang bermasalah dengan tulang. Baik tersebab jatuh, kecelakaan, ataupun bawaan sejak lahir. Proses pengobatannya sangat singkat. Awalnya Ida mengamati tulang tangan pasien yang bermasalah. Lalu, mengolesnya dengan minyak urut buatannya sendiri. Setelah itu, Ida menarik tangan yang bermasalah itu. Tulang yang sebelumnya tampak bengkok pun kembali lurus.
Aktivitas pengobatan itu nyata. Disaksikan langsung oleh para calon pasien lainnya yang mengerubuti. Juga keluarga pendampingnya. Bahkan masyarakat yang kebetulan berada di lokasi pengobatan. Biasanya Ida ’’buka praktik’’ di pasar. Ya. Pasar identik dengan orang kecil. Warga kurang mampu. Wong cilik yang tak punya banyak uang untuk biaya berobat ke rumah sakit. Mereka sadar, begitu melihat dan memeriksa kondisi tangan dan atau kaki yang tidak normalnya parah, dokter akan merekomendasikan tindakan operasi.
Beda dengan praktisi pengobatan alternatif umumnya, Ida Dayak melakukan pengobatannya dengan jujur. Ketika dirinya merasa tidak mampu mengobati pasien dengan kondisi tertentu, dia langsung bilang: ’’Maaf, saya tidak bisa menyembuhkan, silakan dibawa ke dokter.’’
Saya jadi teringat kepada Pak Anshor, tukang pijat langganan saya. Dia punya keahlian menyembuhkan tulang yang keseleo dan patah tulang, sampai saraf kejepit. Tangannya sangat jitu membaca posisi saraf yang bermasalah. ’’Tangannya seperti ada rontgennya,’’ kata juri kopi internasional Setiawan Subekti –yang juga pasien Pak Anshor.
Sama seperti Ida Dayak, Pak Anshor juga mengatakan terus terang kepada yang tidak bisa dia obati: ’’Maaf, saya angkat tangan, tidak bisa membantu ya.’’ Dia tidak mau memijat pasien yang sakitnya akibat terkena sihir (bahasa Osing dari santet).
Selain jujur, Ida Dayak tidak mau dibayar atau menerima bayaran dari jasa pengobatannya. Jarang-jarang ada praktisi pengobatan alternatif punya sikap seperti itu. Pasien hanya disilakan mengganti biaya pembuatan minyak urut bikinannya sebesar Rp 50.000 saja. Tidak boleh lebih! Dan, tidak boleh juga membeli lebih dari satu botol. Di sela-sela mengobati pasien, Ida selalu menyampaikan lewat pelantang suara jadul bawaannya bahwa pengobatannya gratis. Dia juga mengingatkan jangan ada yang memaksakan diri memberinya uang. Penolakan yang sama juga dia tegaskan saat diundang mengobati sejumlah pejabat dan orang penting di negeri ini. Padahal, kalau mau menerima bayaran, Ida Dayak pasti sudah kaya.
Keunikan berikutnya dari wanita kelahiran Pasir Belengkong, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, 51 tahun silam, itu adalah penampilannya. Dia selalu berpakaian adat Dayak dan tidak pernah pakai alas kaki. Tidak hanya saat mengobati masyarakat di pasar, tapi juga saat bertemu dan mengobati pejabat dan mantan pejabat di negeri ini. Ida santai saja masuk ke kediaman mereka dengan tidak memakai sandal atau sepatu.
Saya haqul yaqin, Ida Dayak tidak memusingkan dirinya viral atau tidak. Sebab, dia mengobati ribuan orang dengan ikhlas. Tanpa pamrih sedikit pun. Sayang, kebaikan hatinya masih dinyinyiri beberapa oknum dokter dan pesulap. Juga pihak-pihak yang menuduh pengobatan Ida Dayak berbau klenik dan gaib.
Tapi, Ida Dayak tampaknya tak mau ambil pusing. Fitnah murahan dan sikap nyinyir seperti itu sudah sering dia terima, sepanjang laku-nya mengobati masyarakat di berbagai provinsi yang sudah berlangsung beberapa tahun.
Wa bakdu. Sebagai muslimah, sebelum memulai mengobati pasien, Ida Dayak selalu membuat pengakuan ’’bismillahi tawakaltu alallah lahaula walakuwata illa billah’’. Ida dengan kepasrahan total mengaku bahwa dirinya bukan apa-apa, dan yang punya kekuatan untuk menyembuhkan hanyalah Allah, Tuhan Maha Penyembuh. Sikap tawaduk Ida itu membuat hati bungah.
Ritual Ida yang memejamkan mata menghadap ke ruang terbuka sebelum memulai pengobatan tak serta-merta bisa dianggap sebagai praktik klenik –apalagi musyrik. Ali Mochtar Ngabalin (tenaga ahli utama KSP) yang akrab dengan Ida Dayak memberikan klarifikasi. Dalam acara Catatan Demokrasi TV One, Ngabalin mengaku sudah mendapat jawaban dari Ida Dayak bahwa dirinya sedang berbicara kepada seluruh kekuatan alam, lalu meminta restu kepada pencipta dan pemilik alam: ’’Tuhan, di belakang saya banyak orang yang sedang menunggu saya, beri saya kekuatan untuk menyembuhkan mereka.’’
Dari pernyataan itu, kita bisa menebak seberapa dekatnya Ida dengan Tuhan. Dan, kita jadi tahu, dari mana kekuatan penyembuhan yang selama ini dipakai Ida Dayak untuk menyembuhkan ribuan orang. Wallahu a’lam.
*) Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi, Pekolom, dan Pemuisi

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
